Welcome Note

Dear Visitors,
Welcome to this blog. You may or may not find what you are looking for here. In anycase, feel free to look around and browse the content. This is basically a space for me to share what little that I know from my experience and from 'peeping' into others' blogs. Oh, the wonder of internet! I do hope you can get some 'things' from this blog. Enjoy and have a great life!

Kamis, 02 Juli 2015

RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN (PTK)

RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
SIKLUS I Perencanaan Tindakan Ü Penyusunan dan pengembangan perangkat pembelajaran penemuan terbimbing
Ü Merancang Instrumen Pembelajaran dan Instrumen Monitoring
Ü Merancang skenario pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan dalam tiga kali pertemuan dengan melaksanakan Pembelajaran Penemuan Terbimbing pada materi: Luas Bangun Datar persegi, persegi panjang, segitiga, dan trapesium.
Pra-Pelaksanaan Tindakan Wawancara dengan peserta didik untuk mendapatkan persepsi peserta didik tentang proses pembelajaran yang telah lalu serta untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik atas materi yang akan dijadikan subjek penelitian.
Pelaksanaan Tindakan Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah direncanakan:
Pemberian informasi kepada peserta didik tentang pembelajaran penemuan terbimbing.
Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RP yang telah disiapkan.
Pengamatan Pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dengan menggunakan instrumen yang telah dibuat. Fokus pengamatan adalah pada proses pembelajaran penemuan terbimbing, proses pemahaman peserta didik dan juga pengamatan terhadap motivasi peserta didik.
Refleksi Hasil monitoring kemudian dianalisis agar dapat memperoleh deskripsi dari pengaruh kegiatan/tindakan pada pelaksanaan pembelajaran yang baru saja dilakukan sehingga teridentifikasi hal-hal yang perlu diadakan perbaikan dan menjadi perhatian dalam tindakan berikutnya.
SIKLUS II Perencanaan Tindakan Hasil refleksi siklus I digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pada rencana tindakan siklus II
Pelaksanaan Tindakan, refleksi, dan seterusnya hingga dicapai hasil yang diharapkan.  
PEMBUATAN LAPORAN

Rabu, 01 Juli 2015

PENGORBANAN SI KELINCI (Fabel Buddhis)


Di suatu negeri yang indah, di sebuah hutan nan rindang …………. hiduplah berbagai jenis hewan dengan damai. Di antara hewan-hewan tersebut, terdapat empat sahabat baik. Mereka adalah ….. si kera… (nguk nguk nguk - sambil garuk2 ), sang serigala … (aoouuuuuuu hai temaaan), kura-kura (haloooo) dan ..… si kelinci…… (apa kabar kawan-kawan???)… Keempat sahabat ini hidup di hutan itu dan selalu mencari makan bersama.
Di antara keempat sahabat ini, kelincilah yang paling pandai. Apabila mereka menemui kesulitan, si Kelinci yang menjadi juru nasehat. Kelinci juga selalu menganjurkan mereka untuk berbuat kebajikan.
Pada suatu ketika, saat menjelang bulan Purnama, keempat sahabat ini berkumpul bersama…
Serigala                : Waaah, malam ini cerah sekali. Lihatlah bintang-bintang di sana … *menyanyi*bintang di langit  berkelip kau di sana
Kera                       : Iya ya, bulan pun terang bercahaya. Sepertinya hampir bulan Purnama nih.
Kura-kura            : Benar kawan-kawan. Besok adalah bulan purnama. Berarti besok adalah hari Uposattha saat bulan berbentuk bulat penuh.
Kelinci                   : Saat bulan purnama, alangkah baiknya jika kita bisa merenungkan Ajaran Buddha.
Kera                       : Wah, itu ide yang bagus sekali.
Serigala                                : Apa saranmu, Kelinci?
Kelinci                   : Bagaimana kalau kita melaksanakan kebajikan berdana?
Kura-kura            : Apa itu berdana?
Kera                       : Berdana adalah beramal kebajikan. Kita membantu makhluk lain yang sedang menderita dan membutuhkan pertolongan.
Serigala                : Kita berdana dengan cara memberikan sesuatu kepada makhluk lain dengan hati yang ikhlas dan gembira. Tanpa mengharapkan balasan ataupun imbalan.
Kura-kura            : Oooo begitu… Lalu untuk apa kita harus berdana?
Kelinci                   : Kita berdana dengan tujuan agar kita belajar berbagi dengan orang lain dan mengikis keserakahan dalam diri kita. Sekaligus mendapatkan karma baik.
Kera                       : Kami setuju dengan ide kelinci, iya kan Serigala??
Serigala                                : Ya, ya…
Kura-kura            : Aku juga setuju. Kalau begitu aku ikut berdana ya teman-teman….
Serigala, Kera, Kelinci     : Ba…gus sekali…..
Serigala                : Sekarang, mari kita berpencar dan mencari makanan yang bisa kita dana-kan. Besok kita berkumpul kembali di sini.
Kera                       : Baiklah! Aku akan pergi memanjat pohon dan mencari buah-buahan yang eeeenak-enak. Aku pergi dulu yaaa…
Serigala                : Oke… oke… aku juga pulang dulu ah! Aku akan menyiapkan susu untuk didanakan. Sampai jumpa besok kawan-kawan…
Kura-kura            : Hehm…aku mau berdana apa yaaa? Ah, aku tahu! Aku mau ke tepi sungai dulu ya Kelinci! Aku akan memetik sayur-sayuran. Daaaggg… aku pergi dulu…
Para hewan itu pun berpisah dan masing-masing menyiapkan makanan yang akan mereka persembahan pada hari Uposattha. Si kera pergi mencari buah-buahan dan mendapatkan beberapa mangga yang ranum. Serigala sudah menyediakan susu asam yang lezat. Kura-kura pun telah memetik berbagai jenis sayuran yang segar. Bagaimana dengan si Kelinci?
Kelinci                   : Apa yang dapat kuberikan besok ya? Kera dapat memanjat pohon dan memetik buah-buahan. Serigala dapat menyiapkan susu asam dan Kura-kura akan mengambil sayuran segar dari tepi sungai. Apa persembahkan terbaik yang dapat kuberikan?
                                  (duduk dan perpikir) Aku bertekad … esok aku akan menyerahkan diriku sendiri                                               untuk persembahan. Sekarang aku akan mandi dan membersihkan diri agar esok aku                                       siap dipersembahkan.
Seketika itu juga, pikiran si Kelinci yang sangat tulus dan ikhlas, diketahui oleh Raja Dewa.
Raja Dewa           : Hehmm… Kelinci ini memiliki cinta kasih yang sangat besar. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk makhluk lain yang membutuhkan. Aku akan menguji ketulusan hatinya. Besok aku akan turun ke bumi menjadi seorang petapa!
Pada malam purnama keesokan harinya keempat sahabat itu berkumpul lagi di tempat yang sama.
Kura-kura            : Hei, Kera… apa itu yang kau bawa?
Kera                       : Aku mendapatkan beberapa buah mangga yang ranum untuk persembahan hari ini.
Kura-kura            : Waaaah, sepertinya enak sekali!
Kera                       : Pasti doooong!!!
Kura-kura            : Minta satu yaaa….. (sambil mau mengambil)
Kera                       : Loh, loh, loh…. Ini khan untuk persembahan nanti.
Kura-kura            : O..iyaaa… lupa… hahaha… habis nampaknya enak sekali sih!
Kera                       : Ah, kamu ini! Lalu, kamu bawa apa?
Kura-kura            : Aku sudah memetik sayur-sayuran yang segar ini tadi pagi-pagi sekali.
Kera                       : Sepertinya sayur-sayuran ini juga enak! Aku coba yaaaa
Kura-kura            : Eeiiitttssss….tunggu dulu….
Kera                       : Hahahaaa… aku cuma bercanda.
Kura-kura            : Hei, itu si Serigala. Bawa apa ya dia?
Kera                       : Ayo kita tanya….. Hai, Serigala, selamat pagi!
Kura-kura            : Apakah kamu sudah menyiapkan persembahan untuk hari ini?
Serigala                                : Tentu saja! Aku bawa susu asam yang lezaaaat! Apakah kalian sudah siap?
Kura&kera          : Sudah dooong!!
Serigala                                : By the way, Si Kelinci mana ya? Oh itu dia… Hai, Kelinci... sini dong!
Kelinci                   : Hai, kawan-kawan semua!
Serigala                : Dari mana saja sih kamu? Kita sudah menunggumu sedari tadi looh!
Kelinci                   : Maaf kawan-kawan. Aku terlambat. Mari kita bersama-sama duduk di sini dan merenungkan Ajaran.
Maka mereka bersama-sama duduk dengan tenang menunggu kedatangan para petapa. Pada saat itu beberapa petapa tiba di hutan itu. Raja Dewa yang telah menjelma menjadi seorang petapa pun turut datang. Segera saja para petapa itu dan petapa jelmaan Raja Dewa datang menghampiri para hewan.
Petapa 1              : Wahai, kawan yang baik, adakah sesuatu yang dapat kami makan?
Kera                       : Terimalah persembahanku ini, wahai petapa mulia…(sambil memberikan buah                                                                  mangga)
Petapa 1              : Terima kasih wahai Kera yang baik hati!
Petapa 2              : Wahai, kawan yang baik, adakah sesuatu yang dapat kami makan?
Serigala                                : Terimalah persembahanku ini, wahai petapa mulia…(sambil memberikan susu asam)
Petapa  2              : Terima kasih wahai Serigala yang baik hati!
Petapa 3              : Wahai, kawan yang baik, adakah sesuatu yang dapat kami makan?
Kura-kura            : Terimalah persembahanku ini, wahai petapa mulia…(sambil memberikan sayuran)
Petapa 3              : Terima kasih wahai Serigala yang baik hati!
Raja Dewa           : Wahai, kawan yang baik, adakah sesuatu yang dapat kami makan?
Kelinci merasa senang sekali karena mendapat kesempatan yang ditunggu-tunggu untuk berbuat kebajikan telah datang. Ia segera mengambil kayu bakar dan panci.
Kelinci                   : Mohon nyalakan api dan jeranglah sepanci air ini.
Raja Dewa           : Baiklah… (menyalakan api dan memasak air)
Kelinci                   : Wahai, petapa mulia sudilah menerima persembahanku ini. Akan kami sajikan apa yang belum pernah kami berikan. Aku akan mempersembahkan diriku sendiri. (sambil bersiap-siap melompat ke dalam panci)
Ketika Kelinci sudah siap melompat ke dalam panci, Raja Dewa segera menangkapnya dan melindungi nyawanya.
Raja Dewa           : Wahai, Kelinci yang mulia, aku sangat terkesan dengan ketulusan hatimu. Ketahuilah bahwa aku sebenarnya adalah Raja Dewa yang sengaja menyamar untuk mengujimu. Kami sangat menghargai jasamu yang rela berkorban untuk makhluk lain yang membutuhkan.
                                  Perbuatan kalian ini sangat baik. Semoga jasa-jasa baik kalian akan membawa kalian terlahir kembali di alam yang berbahagia.
Demikianlah kisah tentang pengorbanan si Kelinci. Meskipun ia hanya seekor binatang, ia mengutamakan makhluk lain daripada dirinya sendiri. Semoga kita dapat mengambil masehat dari cerita ini. Marilah selalu melakukan perbuatan baik dengan tulus dan ikhlas.
Sampai jumpa …….


Real Life Lessons

A few days ago, I witnessed one of life's little lessons, which we might miss many times because it happened less than a few fleeting seconds.

I was sitting in my front terrace enjoying my breakfast of mom-made warm rice glutinous when a pair of father and son passed by me doing their morning walk. Err, sort of... will explain in a while. The son was around the age of five and the father was somewhere in his thirties, I guess. The son was on a four-wheeled bike, new-by the look of it, still had parts of it wrapped in plastics and all... He rode it cautiously, swaying left and right, rather unstable. Hehmm, a new rider, I said to myself. The father was walking slowly beside him, obviously making sure his son did not meet any harm or accident during his ride-learning voyage. As they passed by, the father nodded his head towards me, as we were neighbors. Of course I nodded back, smiling. So, on they went. I watched them, still, fascinated by the care I saw the father was doing. He guided the boy by re-adjusting the steering whenever needed, while patiently walking next to, matching his stride with his boy's slow cautious ride.

Suddenly, my eyes caught a strange movement of the bike, as if it was on a road-bump, but I now there wasn't any around. Just then I saw what caused it, the bike's front wheel was on the father's right foot. My eyes widen. And even stranger, the look on the father's face, not once did he grimace or even wince during this "ordeal". Well, it wasn't a very sizable bicycle but still the boy should be quite heavy. What I witnessed next tugged at my heart, and made me decided to write this. 

All the while, the whole three seconds, the father just stood there waiting for his son's new bike's front wheel to finish running over his foot. His son noticing none of this incident, went on his way as if nothing had happened.  Then the father smiled ever so slightly and stroke his son's hair tenderly. So much care was visible. Warmth spread through my chest. How deep can father's love go? Beyond words. 

That reminds me of countless little incidents, where I, as a teenagers, more often than not, got agitated and angered by little mistakes (which I thought, then, was unforgivable) done good-intentionally by my beloved parents: a knock-at-the-wrong-timing, an oh-I-so-do-not-need-this-right-now advice, a this-will-look-good-on-you-but-I-hate-it blouse, and so on and so forth. Not to mention: innumerable I-thought-was-useless suggestions, numerous I-thought-was-ridiculous opinions, endless I-thought-was-unnecessary reminders. How I am ashamed of my reactions back then, so thoughtless, so ungrateful! How I wish I knew then what I realized now that all they cared about was my well-beings, ensuring my future is good, for me.

At least, it is not too late for me to show my appreciation for them, the two persons who are responsible for my existence on this planet. I know I could never repay what they have sacrificed for me all this time, I will try my best anyway. May you both be healthy and happy. I love you Mom and Dad!

Selasa, 02 Juni 2015

Panduan Untuk Menjawab Soal TAP

Indikator Soal TAP
Buku Panduan TAP FKIP UT menyebutkan ada 3 (tiga) kompetensi yang diuji meliputi:

Kemampuan mengidentifikasi kelebihan atau kelemahan suatu peristiwa pembelajaran eksak dan non eksak di SD.
Kemampuan menganalisis kelebihan dan kelemahan pembelajaran eksak dan non eksak di SD
Kemampuan mengembangkan alternatif pemecahan masalah pembelajaran eksak dan non eksak di SD beserta alasannya dalam rangka perbaikan kelemahan atu peningkatan kualitas pembelajaran yang disajikan dalam kasus/permasalahan pembelajaran berdasarkan penelitian tindakan kelas.
Aspek-aspek yang harus dikuasi mahasiswa meliputi: a) aspek materi pelajaran, b). Pendekatan/metode/teknik pembelajaran, c). Penggunaan media pembelajaran, d). Pengelolaan kelas, e). Ketrampilan dasar mengajar dan f). Pelaksanaan evaluasi


1. Penguasaan Bidang Ilmu
Kuasai materi SD untuk 5 mapel (IPA, IPS, BI, Mat, PKn) mulai dari kelas 3 sampai kelas 6.

2. Pemahaman Peserta Didik
Pahami siapa yang menjadi audience, pahami psikologi belajar untuk siswa SD.

3. Pembelajaran yang mendidik.
Anda harus menguasai kompetensi yang harus dimilik guru, kuasai 8 kompetensi mengajar:
4. Pengembangan kepribadian dan keprofesionalan.
Ciri guru profesional:
a. Memahami materi dengan baik
b. Mampu mengajarkan dengan baik
c. Mampu menilai kinerja sendiri diantaranya melalui PTK

Langkah-langkah PTK untuk menyelesaikan kasus pembelajaran:
1. Identifikasi masalah
2. Analisis masalah
3. Alternatif pemecahan masalah
4. Rumusan masalah
5. Tujuan perbaikan pembelajaran
6. Rencana Perbaikan Pembelajaran:
- Kegiatan awal
- Kegiatan inti, dan
- Kegiatan akhir
7. Alasan mengapa anda memilih alternatif pembelajaran seperti itu (didukung teoritik)

PENGUASAAN BIDANG ILMU
Berdasarkan rumusan masalah, dalam rancangan pembelajaran ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun perbaikan pembelajaran di SD yaitu:

a.       Langkah perbaikan pembelajaran harus sistematis.
Menurut Gagne dan briggs, skenario perbaikan pembelajaran, harus sistematis

-     kegiatan awal
 melakukan apersepsi
membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
-          kegiatan inti
 menyampaikan tujuan pembelajaran khusus kepada siswa
mengingatkan dan sedikit mengulas kompetensi prasyarat (Pre requsite material)
menyampaikan alternatif pembelajaran yang akan di tempuh siswa.
membahas materi pembelajaran atau menyampaikan materi pembelajaran
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dan penemuan informasi.
melaksanakan penilaian proses di sela-sela penyampaian materi pelajaran
memberikan penguatan terhadap respon siswa yang positif
-          kegiatan akhir
 melaksanakan umpan balik
menyimpulkan materi pembelajaran yang telah di sampaikan
melaksanakan penilaian hasil/evaluasi
melaksanakan tindak lanjut pembelajaran
mengemukakan tentang topik yang akan di bahas pada waktu yang akan datang
menutup kegiatan pembelajaran

b.      Model pembelajaran harus sesuai dengan karakteristik siswa SD
Menurut Robert J. Havighurt, anak usai SD memeiliki karakteristik senang bermain, senang bergerak, senang belajar, dan bekerja dalam kelompok, dan senang melakukan atau melaksanakan atau meragakan sesuatu secara langsung. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus mampu merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan, anak berpindah atau bergerak, anak belajar atau bekerja dalam kelompok, dan anak terlibat langsung dalam pembelajaran dan penemuan informasi.

c.       Model pembelajaran harus sesuai dengan perkembangan kognitif siswa SD
Menurut Jean Piaget, anak usia SD (7-11 tahun) berada pada tahap perkembangan operasional konkret. Pada tahap ini yang dipikrikan oleh anak hanya terbatas benda-benda konkret (yang dapat dilihat dan diraba). Benda yang tidak tampak pada kenyataan masih aulit dipikirkan oleh anak-anak

Kata Kohlberg dan Giligan, “yang paling utama penyebab terjadinya kesulitan belajar pada anak SD, karena adanya upaya mengajarkan materi abstrak kepada anak-anak yang berada pada masa operasional konkret.”

Kedua pendapat di atas memberikan rambu-rambu (guidelines) bahwa guru harus mampu mengeksploitasi sumber daya dan sumber belajar yang ada untuk di jadiakn sumber dan media pembelajaran, karena pada anak usia ini, materi pembelajaran akan mudah dipahaminya jika disajikan dengan menggunakan objek-objek konkret (dapat dilihat dan diraba), dan anak terlibat langsung di dalam pembelajaran serta penemuan informasi.

d.      Model pembelajaran harus sesuai dengan karakteristik ilmu dan teori belajar
Mata Pelajaran IPA
Menurut Carin Arthur, IPA (sains) itu terdiri dari tiga komponen, yaitu produk IPA (konsep,prinsip,teori,hukum), proses IPA (merupakan seperngkat ketrampilan yang di gunakan para ilmuwan untuk menemukan produk IPA), dan sikap ilmiah, yaitu sikap yang harus dimiliki seorang ilmuwan (jujur, terbuka, tidak mudah putus asa, ulet, dan yang lainnya).

Implementasi dalam pembelajaran, guru jangan hanya membelajarkan materi ke-IPA-an, tetapi juga harus mampu mengajak siswa berproses, siswa belajar seperti halnya para ahli belajar dan bekerja dalam menemukan produk IPA tersebut.

Pendekatan andalan untuk pembelajaran IPA adalah pendekatan ketrampilan proses dengan metode : inkuiri, discoveri, demonstrasi, eksperimen.pemecahan, masalah, dll

Mata Pelajaran Matematika
Menurut Zolton P. Dienes, matematika pada dasarnya merupakan studi tentang pemisahan-pemisahan hubungan antara struktur-struktur dan mengategorikan hubungan diantara struktur-struktur. Karena itu dalam proses pembelajaran di SD harus disajikan dalam bentuk yang konkret. Ini mengandung arti, konsep, hukum, teorema akan mudah dipahami dengan baik, kalau guru ,mampu memanipulasi konsep, hukum atau teorema tersebut melalui suatu benda-benda atau objek-objek nyata

Pendekatan unggulan untuk pembelajaran matematika, adalah pendekatan proses konsep dan pembuktian dengan metode demonstrasi, pemecahan masalah, inkuiri, penugasan, dan yang lainnya. Strategi pembelajaran matematika yang konstruktivistik meliputi: problem solving, problem possing,open-ended problem, mathematical investigation, guided discovery, Constektual learning dan kooperatif learning.

Mata Pelajaran IPS/PKn
Menurut Balen, PKn merupakan bidang studi yang membekali siswa untuk mampu mrngrmbangkan penalaran, di samping aspek nilai dan moral. Peran guru dalam pembelajaran PKn mempunyai hubungan erat dengan cara mengaktifkan siswa dalam belajar, terutama dalam proses pengembangan ketrampilan. Ketrampilan yang diproses adalah ketrampilan berpikir, ketrampilan sosial, dan ketrampilan praktis.

Ketrampilan berpikir dikembangkan untuk melatih siswa berpikir logis dan sistematis melalui proses pembelajaran dengan model pengemabangan berpikir kritis. Ketrampilan sosial dan praktis melalui dialog kreatif. Ketiga ketrampilan tersebut dapat dikembangkan dalam situasi pembelajaran yang interaktif anatara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, melalui penggunaaan lingkungan sebagai sumber dan media pembelajaran

Pendekatan unggulan untuk pembelajaran PKn, adalah pendekatan lingkungan dengan metode: inkuiri, pemecahan masalah, karya wisata, bermain peran, penugasan, dan yang lainnya.

Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Menurut Hendri Guntur Tarigan, dalam pembelajaran Bahsa Indonesia, ada empat ketrampilan yang harus dikembangkan yaitu ketrampilan yang harus dikembangkan yaitu ketrampilan membaca, ketrampilan menyimak, ketrampilan menulis dan ketrampilan berbicara. Keempat ketrampilan tersebut harus terintegrasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pendekatan unggulan untuk pembelajaran Bahasa Indonesia adalah pendekatan komunikatif, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan whole language, dengan metode: diskusi, inskusi, sosiodrama/bermain peran, tanya jawab, penugasan, latihan, bercerita, pemecahan masalah atau karya wisata.

Penegasan Istilah
Pendekatan/Strategi/Metode
Pengertian Pendekatan menurut Udin Saripudin Winataputra kata pendekatan  berasal dari kata (Bahasa Inggris) “approach” yang artinya penghampiran, jalan, tindakan mendekati. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai jalan yang digunakan oleh guru atau pembelajar untuk menciptakan suasana yang memungkinkan siswa belajar. Pendekatan lebih bersifat konseptual artinya terjadi dalam pikiran guru yang menjadi kerangka untuk melakukan tindakan pembelajaran.

Contoh Pendekatan Pembelajaran:

-          Pendekatan sistem,

-          Pendekatan didaktis,

-          Pendekatan kognitif

-          Pendekatan Ketrampilan Proses

-          Pendekatan Lingkungan

-          Pendekatan Konsep

-          Pendekatan Humanistik

Pengertian Strategi berasal dari kata (Bahasa Inggris) Strategy artinya akal atau siasat. Strategi pembelajaran merupakan urutan langkah atau prosedur yang digunakan guru untuk mensuasanai siswa dalam mencapai tujuan belajar. Strategi bersifat operasional. Menurut Atwi Suparman (1993) secara pokok terdapat kegiatan yang tercakup dalam strategi umum pembelajaran yaitu: 1). kegiatan pra instruksional, 2). penyajian informasi, 3). partisipasi siswa dan 4). tindak lanjut.

Contoh Strategi Pembelajaran:
-          Strategi deduktif
-          Strategi Induktif

Pengertian  Metode menurut Udin Saripudin Winataputra kata  metode  berasal dari kata (Bahasa Inggris) “Method” yang artinya cara, teknik. Metode pembelajaran diartikan cara yang digunakan oleh guru dan siswa dalam mengolah informasi (fakta,konsep,data) pada proses belajar mengajar yang memungkinkan terjadi langkah tertentu.

Contoh Metode Pembelajaran:

-          Diskusi                                                 – Simulasi

-          Eksperimen                                           – Driill

-          Demonstrasi                                          – Penugasan

-          Karya Wisata                                         – Ceramah

-          Inquiry                                                  –  Discoveri

-          Tanya jawab                                          – Ekpositori

-          Bermain peran                                       – Outdoor activity


Teori-Teori Belajar
Guru  yang profesional dan kompeten mempunyai wawasan landasan yang dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.    Ada  beberapa teori untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran   :

a). Teori Thorndike
Teori ini disebut sebagai teori penyerapan, yaitu teori yang memandang peserta didik sebabagi selembar kertas putih, penerima pengetahuan secara pasif. Metode yang digunakan menekankan banyak memberi praktik dan driil (drill & practice)

b). Teori Ausubel
Teori ini mengemukakan perlunya pembelajaran bermakna (meaning theory) dalam matematika. Bermakna yang dimaksud dapat berupa struktur matematika untuk memudahkan pemahaman (understanding). Wujud bermakna dapat berupa pernyataan konsep, bagan, diagram, grafik atau peta.
  
c). Teori Jean Piaget
Teori ini mengemukakan bahwa kemampuan intelektual anak berkembang secara bertingkat yaitu: sensorik motor (0-2 th), pra operasional (2-7th), operasional konkrit (7-11 th) dan formal operasional (lebih 11 th). Teori ini merekomendasikan perlunya mengamati tingkat perkembangan intelektual anak sebelum suatu bahan pelajaran matematika diberikan terutama kemampuan berpikir abstrak.

d).  Teori Vygotsky
Teori ini mengembangkan model konstruktivistik belajar mandiri menjadi belajar kelompok sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan dari beraneka ragam antara lain diskusi,  tanya jawab, kerja kelompok dll.

e).  Teori Jerome Bruner
Teori ini berkaitan dengan perkembangan mental anak, yaitu metak anak berkembang mulai dari sederhana ke yang rumit, mudah ke sulit, mulai nyata ke abstrak. Ada tiga tingkatan dalam mengakomodasikan peserta didik yaitu: enactive, iconic dan symbolic

f).  Teori George Polya
Teori ini menyebutkan bahwa suatu masalah merupakan pertanyaan untuk melatih pikiran melalui kegiatan inkuiri, diskusi dan penalaran.

g).  Teori Van Hiele
Teori ini menyebutkan bahwa eksistensi dari lima tingkatan yang berbeda tentang pemikiran geometri yaitu: visualisasi, analisis, deduktif informal, deduktif, rigor.

h).  Teori Freudental
Teori ini dikenal dengan RME (Realistic Mathematik Education)

i).   Teori  Zahorik
Pengetahuan bukan seperangkat fakta yang harus diterima tetapi sesuatu yang harus dirancang bangn atau direkonstruksi sendiri oleh siswa. Pembelajar akan bermakna jika siswa “mengalami” apa yang dipelajari bukan “mengetahui”.

j).   Teori Gagne
Teori yang menganggap belajar suatu proses sehingga dikenal dengan teori model pemrosesan informasi.

  

Jangan Katakan Ini Kepada Anak Anda

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anakpun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak anda lontarkan untuk buah hati tercinta. Apa itu???

"Pergi Sana! Bapak Mau Sendiri"
Ketika anda kerap melontarkan kata-kata diatas pada anak, maka anak akan berfikir tidak ada gunanya berbicara dengan orang tuanya karena mereka selalu diusir. "jika anda terbiasa mengatakan hal-hal itu pada anak anda sejak mereka kecil, biasanya mereka akan mengatakan hal yang sama ketika dewasa".

"Kamu Itu...!!"
Pelabelan pada anak adalah cara pintas untuk mengubah anak-anak. Jika seorang Ibu mengatakan " Anak saya memang pemalu", maka anak akan menelan begitu saja label itu tanpa bertanya apapun. Apa lagi, bila kita memberikan label buruk pada anak-anak, itulah yang akan melekat dalam benak mereka seumur hidup.

"Jangan Nangis"
Atau kata-kata yang serupa seperti "jangan cengeng" atau "nangis melulu". Padahal, untuk anak-anak yang belum dapat mengekspresikan emosi lewat kata-kata, mereka hanya dapat menyalurkannya dengan cara menangis. Adalah wajar bila anak menangis, merasa sedih atau ketakutan. Sebenarnya wajar juga jika orang tua ingin melindungi anak mereka dari perasaan-perasaan itu. Tapi dengan mengatakan "jangan" tidak berarti anak-anak akan lebih baik. ini juga akan memberikan kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih. Lebih baik katakan pada anak bahwa anda memahami perasaan sedih yang dia alami. "ibu paham kamu takut dengan ombak, ibu janji tidak akan melepaskan tanganmu lagi nak?

"Kenapa Kamu Tidak Bisa Seperti Dia?"
"Lihat tuh, Andi rapi banget mengancing bajunya, kok kamu ga bisa". Para pakar menilai wajar apabila orang tua membandingkan anaknya. Ini akan menjadi referensi terhadap perkembangan anak, namun tolong, jangan katakan ini di depan anak-anak. Ini karena tiap anak punya kepribadian sendiri dan tiap anak merupakan individu yang berbeda. Membandingkan anak dengan orang lain berarti anda menginginkan anak anda menjadi orang yang berbeda.

Semoga bermanfaat...

Sumber: http://masimronashari.blogspot.com/2014/03/jangan-katakan-ini-kepada-anak-anda.html

PENGGUNAAN ALAT PERAGA IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.
Pengajaran IPA bertujuan agar siswa:

  • memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari
  • memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar
  • mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar
  • bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri
  • mampu menerapkan berbagai konsep IPA
  • mampu menggunakan tekhnologi sederhana
  • mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa (Moh. Surya, 1992: 21).
Tiap-tiap benda yang dapat menjelaskan suatu ide, prinsip, gejala atau hukum alam, dapat disebut alat peraga Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6)

Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar  yang efektif (Nana Sudjana, 2002: 99). Dalam kaitannya dengan pengajaran IPA, keberadaan alat peraga jelas mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan belajar mengajar. Pengajaran pada dasarnya (Nana Sudjana, 2002: 43) adalah suatu proses terjadinya interaksi guru siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yaitu kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru.
Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5).

Peranan alat peraga dalam pembelajaran IPA sebagai proses antara lain memberikan pengalaman langsung dalam belajar, mengaktifkan komunikasi dan interaksi antar guru dan siswa dan memperbesar perhatian siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru.
Disamping itu nilai praktis alat peraga IPA antara lain dapat menampilkan obyek yang langka dan sulit diamati, dapat melihat gerakan obyek secara langsung dan tidak langsung.
Salah satu tujuan pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994: 61). Apabila dalam proses belajar mengajar IPA guru tidak menggunakan alat peraga, maka sulit bagi siswa untuk menyerap konsep-konsep pelajaran yang disampaikan guru sehingga berdampak pada kurangnya tingkat keberhasilan siswa dalam belajar. Dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar tak lepas dengan alat peraga yang sangat dibutuhkan oleh guru dan peserta didik.

a. Pengertian Alat Peraga
Sebelum membicarakan lebih jauh tentang alat peraga, terlebih dahulu kita harus memahami pengertian atau definisi alat peraga itu sendiri. Berbicara tentang alat peraga sebagai media pendidikan dan pengajaran kita dapat melihatnya dalam pengertian yang luas maupun terbatas. Berbagai sudut pandang, maksud atau tujuan tertentu menyebabkan timbulnya berbagai pendapat para ahli pendidikan yang menjelaskan pengertian alat peraga.
1) Gagne menempatkan alat peraga sebagai komponen sumber, dia mendifinisikan alat peraga sebagai: “ komponen sumber belajar di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”.
2) Briggs berpendapat bahwa harus ada sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar. Karena itu dia mendifinisikan alat peraga sebagai “wahana fisik yang mengandung materi pembelajaran”.
3) Wilbur Schramm nampaknya melihat alat peraga dalam pendidikan sebagai suatu tehnik untuk menyampaikan pesan.Oleh sebab itu dia mendifinisikan alat peraga, sebagai berikut “Alat
peraga adalah tehnologi pembawa informasi atau pesan pembelajaran”.

b. Jenis- Jenis Alat Peraga IPA
Khususnya alat peraga IPA telah dikembangkan untuk membantu proses belajar mengajar dengan tujuan anak didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep IPA. Beberapa ahli pendidikan, khususnya ahli tentang media pendidikan telah menggolongkan alat peraga sesuai dengan fungsi, bentuk dan sumber alat peraga tersebut.
Secara umum alat peraga sebagai media pendidikan terdiri dari: 1) bahan –bahan cetakan atau bacaan seperti buku, koran, majalah dan sebagainya. 2) alat-alat audio dan visual, seperti: radio kaset, TV, video, dan lain-lain. 3) sumber-sumber masyarakat, seperti: monument, candi dan peninggalan sejarah lainnya. 4) koleksi benda-benda seperti: koleksi mata uang kuno, koleksi awetan tumbuhan dan hewan. 5) perilaku guru ketika yang dicontohkan kepada siswa. Dengan melihat peranan alat peraga seperti yang telah dijelaskan diatas, maka pembelajaran IPA akan lebih efektif dan lebih nyata.

Lebih jauh secara rinci, kita dapat melihat alat peraga IPA di sekolah dasar sehubungan dengan pendekatan ketrampilan proses, baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri.
1. Manfaat alat peraga IPA bagi siswa
- Dapat meningkatkan motivasi belajar
- Dapat menyediakan variasi belajar
- Dapat memberi gambaran struktur yang memudahkan belajar
- Dapat memberikan contoh yang selektif
- Dapat merangsang berpikir analisis
- Dapat memberikan situasi belajar yang tanpa beban atau tekanan (kurang bersifat formal).
2. Manfaat alat peraga IPA bagi guru
- Dapat memberikan pedoman dalam merumuskan tujuan pembelajaran
- Dapat memberikan sistematika mengajar
- Dapat memudahkan kendali pengajaran
- Dapat membantu kecermatan dan ketelitian dalam penyajian
- Dapat membangkitkan rasa percaya diri dalam mengajar
- Dapat meningkatkan kualitas pengajaran.

Alat peraga merupakan salah satu faktor untuk mencapai efisiensi hasil belajar (Moh. Surya, 1992: 75). Keberadaan alat bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga) oleh A.Samana (2001: 21) digambarkan dalam diagram berikut.

  • Tujuan Pendidikan (tujuan pengajaran)
  • Guru - Siswa
  • Pendekatan  — Metode  –  Teknik
  • Alat Bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga)

Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).
Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses belajar mengajar (2002: 99-100):
a.    Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantuuntuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
b.    Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar
c.    Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran
d.    Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan sekedar pelengkap
e.    Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru
f.    Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar

Di samping enam fungsi di atas, penggunaan alat peraga mempunyai nilai-nilai:

  • Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme
  • Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar
  • Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap
  • Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa
  • Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan
  • Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa
  • Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana, 2002: 104-105)

  • Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan
  • Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik
  • Menyajikan alat peraga dengan tepat
  • Menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.

R.M. Soelarko dalam buku Audio Visual media komunikasi ilmiah pendidikan penerangan (1995: 6) menggolongkan macam-macam alat peraga berdasarkan pada bahan yang dipakai:
a. Gambar-gambar (lukisan), dalam IPA misalnya Zoologie (gambar-gambar binatang), Botanie (gambar pohon, bunga, daun, dan buah), dan gambar tentang ilmu bumi (gambar gunung, laut, danau, hutan)
b. Benda-benda alam yang diawetkan, misalnya daun kering yang dipres, bunga, serangga misalnya kupu-kupu, jangkrik, belalang.
c. Model, Fantom, dan Manikkin. Yang disebut model adalah bentuk tiruan dalam skala kecil. Fantom atau Manikkin adalah model anatomi dari bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri misal rangka manusia.

REFERENSI
A. Samana, 2001, Sistem Pengajaran, Yogyakarta: Kanisius
Depdikbud, 1994, Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-garis Besar Program Pengajaran Kelas IV SD, Dirjen Dikti Bagian Proyek Pengembangan PGSD
Dimyati dan Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Moh. Surya, 1992, Psikologi Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung
Nana Sudjana, 1990, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Nana Sudjana, 2002, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Ngalim Purwanto, 1998, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
R.M. Soelarko, 1995, Audio Visual Media Komunikasi Ilmiah Pendidikan Penerangan, Binacipta
Tim Penulis Psikologi Pendidikan, 1993, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UPT IKIP Yogyakarta
Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Bruner (dalam Handoyo.1990.148) Teori Belajar.
Gagne (dalam Ismail, 1998) Komponen Sumber Belajar
Waler Klinger (1997) “Metode Pengajaran Ilmu Pendidikan Alam” Nurn Berg :
Erziehung Swiss. Fakultat Der Universitat Erlangen.

Sumber: http://juhji-ilmualam.blogspot.com/2012/03/alat-peraga-ipa.html
        http://dedeawan.wordpress.com/2008/04/01/pentingnya-alat-peraga-dalam-mengajar-ipa/

Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa


Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya: (a) learning disorder;
(b) learning disfunction;
(c) underachiever; 
(d) slow learner, dan
(e) learning diasbilities.

Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

a. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

c. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

d. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya….