Welcome Note
Dear Visitors,
Welcome to this blog. You may or may not find what you are looking for here. In anycase, feel free to look around and browse the content. This is basically a space for me to share what little that I know from my experience and from 'peeping' into others' blogs. Oh, the wonder of internet! I do hope you can get some 'things' from this blog. Enjoy and have a great life!
Senin, 10 September 2012
Dr. Masaru Emoto's Experiment - Water Crystals
Interesting Read ^^ - enjoy
https://witnessthis.wordpress.com/2011/05/11/can-thoughts-affect-water-molecules/
WATER: CAN POSITIVE THOUGHTS AFFECT WATER MOLECULES?
IN last week’s column, A dummies guide to quantum physics, I put forward the main theories and ideas of quantum physicists. Of these were the theory that we all collectively play a role in creating reality, that our brains are only able to see what we believe is possible or have experience of, and the idea that thoughts can have real effects on physical reality.
A popular example of the latter was an experiment conducted by Japanese scientist Dr Masaru Emoto who published his findings in a book called Messages from Water. Emoto was studying the effects of music on water molecules. He found that water molecules seemed to take on different shapes depending on the music they were exposed to. This is interesting when we consider the effect of music on plant growth and the effect of Mozart on milk production in cows.
Emoto then began experimenting with the effects that words, prayer, thoughts and blessings might have on water molecules. Again, he claimed that the molecules took on different shapes depending on their labels and affirmations offered (see images). Some of the labels consisted of simple words or statements such as “thank you” and “peace”. Emoto’s published results indicated that water crystal formation was sensitive to these things and concluded that molecules of water “are affected by our thoughts, words, and feelings”. The science that affects water molecules in this way is still unknown.
Water molecule formation (thoughts?)
Emoto’s work has, however, been met with controversy within the scientific community. It was found that he did not publish the entirety of his photographs. It is also unknown whether or not he ruled out or ignored crystals that did not support his hypothesis. It is sadly something that cannot be soundly verified.
However, Emoto’s experiments still hold interest when we consider that the human body (as well as plants and other animals) are almost entirely made of water. I’m sure we all also know of someone who says they’ve experienced spiritual or alternative healing. We could also consider how we heal faster or get sick less frequently with a positive state of mind, or how subjective pain is. All these secrets may lie in the molecular make-up of water.
What’s more is that water is one of the most complex and unique compounds known to science and chemistry. It may just be a simple combination of hydrogen and oxygen, but the intricacies of water are far more complex. It is not only the most receptive element, but also the only one that can be in all known states (e.g. solid, liquid, gas).
We can take things a step further and consider how the human brain is mostly water and may then too be subjected to thoughts or emotional conditioning in profound ways. The brain is a vast system of neural networks which communicate with each other electrically and chemically. They respond to stimuli picked up from our environment by our sense organs and proceed to send chemicals from the brain throughout the body. Each cell is covered in receptors which absorb chemical combinations (called peptides) and respond accordingly. It can be said the behaviour of our watery cells change depending on the peptides they receive.
Following this process we all build up models of how we see the world outside of us. These are refined according to the information we have or receive. This is how we each form our own personal world view or ideology. However, any new information we pick up from the environment is always coloured by previous experiences that we’ve had as well as the emotions associated with those experiences. People may think of love very differently, for example, if their associations and experiences of love differ.
However, what quantum physics and biology have shown, is that these neural networks are able to rearrange themselves according to the emotions we feel and experiences we have on a daily basis. If we experience anger and despair often, our neural networks will adapt to provide more of the chemicals that cause these emotions. Similarly, if we manage to control our thoughts and maintain more of a positive outlook on a daily basis, more favourable arrangements will be made. And that is somthing that science does agree with.
Minggu, 09 September 2012
The Magic of (Positive) Words
Suatu ketika, diceritakan seorang perempuan yang memiliki suami yang berprofesi sebagai seorang tukang masak (koki) di sebuah restoran terkenal. Karena Sang suami sangat pandai memasak, ia selalu dapat menemukan kelemahan dalam masakan istrinya sendiri. Saat makan malam merupakan saat-saat yang kurang menyenangkan bagi si istri. Selalu saja sang suami makan diiringi komentar tajam dan kritikan pedas. Hingga sang istrinya seringkali berpikir untuk berhenti memasak saja.
Pada suatu hari, sang suami mengalami musibah kecelakaan dan tidak tertolong (meninggal dunia). Beberapa tahun kemudian, perempuan itu menikah kembali dengan seorang pria yang berprofesi sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan. Sebagai seorang istri yang baik, ia tetap berusaha menyediakan makan malam di rumah untuk suami barunya walaupun ia merasa tidak percaya diri. Sebelum suaminya makan masakannya untuk pertama kali, ia berkata, "Maaf ya, Pa, jika masakanku kurang enak. Aku memang kurang pandai memasak." Ternyata, setelah mencicipi masakannya, sang suami berkomentar bahwa seumur hidupnya baru kali ini makan makanan yang terenak didunia. Sejak hari itu, setiap kali hendak berangkat kerja suaminya selalu mengatakan, 'Ma, aku selalu tidak sabar untuk pulang ke rumah karena mau menikmati masakan mama.' Pujian itu semakin membuat istrinya gemar memasak. Sampai akhirnya membuka sebuah restoran yang terkenal dengan masakan yang enak tiada duanya.
~Author, unknown~Sesungguhnya, tutur kata yang kita ucapkan memberikan dampak besar terhadap diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Kata-kata positif akan jauh lebih bermanfaat dan mendorong kepercayaan diri. Untuk itu, marilah kita senantiasa berusaha berucap positif demi kemajuan hidup kita.
Satu kata baik lebih berharga daripada seribu kata-kata buruk.
Minggu, 19 Agustus 2012
SCIENCE EXPERIMENTS - Red Beans (A Life's Journey)
SCIENCE EXPERIMENTS - Red Beans
A couple of months back I did an experiments with res beans. Planting them in a media of water (hydro-planting). Put a few beans in the glass container lined with paper.
In mere days the roots began sprouting first, followed by the stem. It's pretty amazing to see how those small roots and stems trying to squeeze their way up and down finding a space to grow.
A few more days and they are out of the glass edge. Leaves standing tall, searching for sunlight. Roots digging deeper into the water at the bottom of the container.
They grew taller...
And yet, taller...
That's the end of them, though. After reaching the 'highest peak', the stems started to wither and fall.
I guess life is like that. You're excited at the beginning, getting better and better, then without realizing, you are at the end of your journey. What have we done with our lives? What have we done to others?
What have we done FOR others?
PEWARNA MAKANAN
Pewarna makanan merupakan benda
berwarna yang memiliki afinitas kimia terhadap makanan yang di warnainya.
Tujuan pemberian warna dimaksudkan agar makanan terlihat lebih berwarna
sehingga, menarik perhatian konsumen. Bahan pewarna umumnya berwujud cair dan
bubuk yang larut di air.
Ada 2 (dua) jenis zat
warna yang biasa digunakan dalam pengolahan pangan, yaitu pewarna alami dan
sintetis. Pewarna sintetis yang biasa digunakan dalam pengolahan pangan biasa
disebut dengan ” Food Colour “.
·
Pewarna Makanan Alami (Food Colour)
Pewarna alami
merupakan pewarna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan yang lebih aman
untuk dikonsumsi.
Contohnya :
Karotenoid adalah
kelompok zat warna yang meliputi warna kuning, oranye, dan merah. Biasanya
terdapat pada tomat, wortel, cabai merah, dan jeruk. Sedangkan dari hewan
terdapat dalam lobster dan kulit udang.
·
Pewarna Makanan Buatan/Pewarna Sintesis (Non Food Colour)
Pewarna buatan adalah
pewarna yang biasanya dibuat dipabrik-pabrik dan berasal dari suatu zat kimia.
Pewarna ini digolongkan kepada zat berbahaya apabila dicampurkan kedalam
makanan. Pewarna sintetis dapat
menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada fungsi hati dalam tubuh kita.
Contoh-contoh zat
pewarna sintesis yang digunakan antara lain indigoten, allura red, fast green,
tartrazine.
Ciri-ciri visual yang dapat
digunakan sebagai patokan dalam memilih makanan di pasaran, adalah sebagai
berikut :
Pewarna Alami :
1. Warna agak suram
2. Mudah larut dalam
air
3. Membutuhkan bahan
pewarna lebih banyak (kurang mampu mewarnai dengan baik)
4. Membutuhkan waktu
lama untuk meresap kedalam produk
Pewarna Non Food
Colour :
1. Warna cerah sekali
2. Tidak mudah larut
dalam air
3. Membutuhkan bahan
pewarna lebih sedikit, karena dalam konsentrasi rendah sudah mampu mewarnai
dengan baik.
4. Cepat meresap ke
dalam produk
Makanan yang diwarnai
dengan pewarna ”Non Food Colour” (bukan pewarna makanan) akan cerah sekali,
karena pewarna cepat meresap kedalam produk. Biasanya tempat atau bejananya
juga akan berwarna, sukar sekali dihilangkan meskipun telah dicuci. Begitupun
bila kita pegang, maka bekas pewarna akan tetap menempel.
Ada beberapa hal yang
perlu kita lakukan untuk mencegah bahaya pewarna makanan di lingkungan keluarga
dan lingkungan sekitar diantaranya :
·
Tanamkan pemahaman kepada anak-anak kita untuk tidak jajan
sembarangan. Makanan yang dimasak di rumah tentu jauh lebih aman ketimbang
jajanan yang kita tidak tahu proses pembuatannya seperti apa. Akan lebih baik
jika anak-anak membawa bekal makanan/minuman sendiri dari rumah.
·
Mengkampanyekan agar bersikap hati-hati terhadap makanan/jajanan
di luar rumah. Makanan/minuman dengan warna yang mencolok sebaiknya dihindari,
karena ada kemungkinan menggunakan pewarna yang bukan untuk makanan. Lakukan
kampanye ini kepada anggota keluarga, saudara, dan orang-orang di sekitar Anda.
·
Sekedar tambahan, ‘junk food’ yang digilai banyak orang di
Indonesia, di negara asalnya justru sudah mulai ditinggalkan karena terbukti
menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan. Jadi, jangan alihkan anak-anak dari
jajanan ‘biasa’ di sekitar kita ke junk food yang juga sama-sama berisiko
membahayakan kesehatan.[amd]
Anak adalah pembeli yang
potensial, pester powernya bisa memaksa orang
tua untuk membelikan sesuatu
yang diinginkan meski kadang tak sesuai
yang dikehendaki orang tua.
Termasuk juga dalam soal jajanan (snack).
Para produsen makanan ringan
turut menjadikan anak sebagai sasaran
produk yang dihasilkan.
Karena anak-anak memiliki
rasa keingintahuan yang besar terhadap
sesuatu, maka jajan buat
anak kadang dijajakan dengan aneka cara. Baik
melalui iming-iming hadiah,
kemasan menarik, rasa yang menggoda selera,
termasuk pula lewat gempuran
iklan dahsyat ditelevisi yang menggoda.
Namun, tak semua jajanan
anak aman untuk dikonsumsi. Salah satunya
adalah Bahan Tambahan Pangan
(BTP) yang dibubuhkan. Ambil contoh
misalnya penambahan zat
aspartam yang dalam riset medis telah terbukti
menimbulkan kanker bila
dikonsumsi dalam jangka panjang.
Bahaya minuman bersoda
Bahaya minuman bersoda
Anda penyuka minuman bersoda? Mulai saat ini,
berhati-hatilah. Anda harus tahu bahwa di balik sensasi rasanya yang
menyegarkan, minuman bersoda menyimpan bahaya yang serius bagi tubuh.
Apa sajakah bahaya dari minuman bersoda tersebut?
Membahayakan Ginjal
Amerika Serikat melakukan penelitian mengenai bahaya tersebut terhadap 3256. Mereka rutin mengkonsumsi minuman bersoda minimal 2 kali sehari. Hasilnya, sebanyak 30% responden mengalami kerusakan ginjal dan penurunan fungsinya.
Menurut para ahli, hal ini terkait dengan kandungan minuman bersoda, yakni pemanis buatan, pewarna buatan, kafein, dan asam fosfat.
Meningkatkan Risiko Diabetes
Para penderita penyakit diabetes sangat dilarang untuk mengkonsumsi gula. Hal ini karena hormon insulin yang ada di dalam tubuhnya tidak cukup, bahkan tidak sanggup untuk mengubah zat gula tersebut menjadi gula otot (glikogen). Akibatnya, gula darah (glukosa) akan meningkat dan membahayakan.
Ingat, diabetes juga merupakan salah satu penyakit yang bisa memicu penyakit yang lain, misalnya stroke dan kerusakan jantung koroner. Jika Anda banyak mengkonsumsi minuman bersoda, selain berpotensi menyebabkan diabetes, stroke dan kerusakan jantung korone juga bisa terjadi. Perlu dicatat bahwa penyakit diabetes timbul tak hanya karena faktor keturunan. Orang yang asalnya normal pun bisa menderita penyakit diabetes.
Meningkatkan Risiko Obesitas
Minuman bersoda kaya akan kalori. Kalori yang masuk ke dalam tubuh bisa meningkatkan risiko obesitas. Tak hanya bagi orang yang sudah dewasa, anak-anak bisa menderita obesitas.
Di Amerika Serikat, tingkat obesitas pada anak-anak sangatlah tinggi. Salah satu penyebabnya adalah minuman bersoda. Anak-anak di Amerika Serikat mengkonsumsi minuman bersoda layaknya meminum air putih. Setelah makan, mereka pasti minum minuman bersoda. Hasilnya, mereka banyak yang menderita obesitas.
Ingat, obesitas merupakan salah satu pemicu dari munculnya penyakit-penyakit lain. Di antaranya diabetes, stroke, kerusakan jantung koroner, dan berbagai penyakit serius lainnya.
Meningkatkan Risiko Tulang Rapuh
Salah satu kandungan minuman bersoda adalah asam fosfat. Dalam suatu penelititan, asam fosfat ini bisa menyebabkan penyakit kerapuhan tulang. Hal ini karena asam fosfat bisa melarutkan kalsium yang ada di dalam tulang. Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan keropos.
Universitas Harvard pernah membuat penelitian mengenai hal ini. Mereka mengamati seorang atlet remaja pengonsumsi minuman bersoda dan yang tidak mengkonsumsi minuman bersoda. Hasilnya, atlet remaja pengonsumsi minuman bersoda mengalami patah tulang 5 kali lebih banyak daripada atlet remaja yang tidak mengkonsumsi minuman bersoda.
Meningkatkan Risiko Kanker Pankreas
Dalam suatu penelitian di Amerika Serikat, kandungan minuman bersoda dipercaya sebagai salah satu pemicu timbulnya kanker pankreas. Dalam penelitian tersebut, 87% responden yang minimal mengkonsumsi minuman bersoda 2 kali sehari mengalami peningkatan risiko kanker pankreas.
Penelitian dilakukan terhadap 60524 responden (pengonsumsi minuman bersoda) selama 14 tahun. Hasilnya, sebanyak 87% mengalami risiko kanker pankreas yang terlihat melalui gejala-gejalanya.
Meningkatkan Kerusakan pada Gigi
Dalam suatu penelitian, 3200 orang responden mengalami kerusakan gigi akibat mengkonsumsi minuman bersoda. Hal ini tentu saja akibat kandungan zat gula yang ada di dalam minuman tersebut. Tak hanya itu, asam fosfat juga turut memperburuk kerusakan gigi dengan cara melarutkan kalsium gigi.
Meningkatkan Ketergantungan pada Kafein
Minuman bersoda mengandung kafein. Zat ini sejak dulu dikenal sebagai zat yang mampu membuat orang ketergantungan. Meskipun kafein mempunyai efek positif terhadap tubuh, efek negatif kafein ternyata lebih banyak. Misalnya, membuat jantung berdebar, insomnia, tekanan darah rendah, dan lain-lain.
Setelah menyimak bahaya-bahaya minuman bersoda tersebut, ada baiknya Anda dan keluarga Anda segera mengganti menu minuman bersoda dengan minuman lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Misalnya, susu kedelai, air putih, teh hijau, teh hitam, jus buah segar, atau yoghurt. Dengan begitu, Anda akan terhindar dari risiko penyakit-penyakit serius yang mengancam tubuh.
Apa sajakah bahaya dari minuman bersoda tersebut?
Membahayakan Ginjal
Amerika Serikat melakukan penelitian mengenai bahaya tersebut terhadap 3256. Mereka rutin mengkonsumsi minuman bersoda minimal 2 kali sehari. Hasilnya, sebanyak 30% responden mengalami kerusakan ginjal dan penurunan fungsinya.
Menurut para ahli, hal ini terkait dengan kandungan minuman bersoda, yakni pemanis buatan, pewarna buatan, kafein, dan asam fosfat.
Meningkatkan Risiko Diabetes
Para penderita penyakit diabetes sangat dilarang untuk mengkonsumsi gula. Hal ini karena hormon insulin yang ada di dalam tubuhnya tidak cukup, bahkan tidak sanggup untuk mengubah zat gula tersebut menjadi gula otot (glikogen). Akibatnya, gula darah (glukosa) akan meningkat dan membahayakan.
Ingat, diabetes juga merupakan salah satu penyakit yang bisa memicu penyakit yang lain, misalnya stroke dan kerusakan jantung koroner. Jika Anda banyak mengkonsumsi minuman bersoda, selain berpotensi menyebabkan diabetes, stroke dan kerusakan jantung korone juga bisa terjadi. Perlu dicatat bahwa penyakit diabetes timbul tak hanya karena faktor keturunan. Orang yang asalnya normal pun bisa menderita penyakit diabetes.
Meningkatkan Risiko Obesitas
Minuman bersoda kaya akan kalori. Kalori yang masuk ke dalam tubuh bisa meningkatkan risiko obesitas. Tak hanya bagi orang yang sudah dewasa, anak-anak bisa menderita obesitas.
Di Amerika Serikat, tingkat obesitas pada anak-anak sangatlah tinggi. Salah satu penyebabnya adalah minuman bersoda. Anak-anak di Amerika Serikat mengkonsumsi minuman bersoda layaknya meminum air putih. Setelah makan, mereka pasti minum minuman bersoda. Hasilnya, mereka banyak yang menderita obesitas.
Ingat, obesitas merupakan salah satu pemicu dari munculnya penyakit-penyakit lain. Di antaranya diabetes, stroke, kerusakan jantung koroner, dan berbagai penyakit serius lainnya.
Meningkatkan Risiko Tulang Rapuh
Salah satu kandungan minuman bersoda adalah asam fosfat. Dalam suatu penelititan, asam fosfat ini bisa menyebabkan penyakit kerapuhan tulang. Hal ini karena asam fosfat bisa melarutkan kalsium yang ada di dalam tulang. Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan keropos.
Universitas Harvard pernah membuat penelitian mengenai hal ini. Mereka mengamati seorang atlet remaja pengonsumsi minuman bersoda dan yang tidak mengkonsumsi minuman bersoda. Hasilnya, atlet remaja pengonsumsi minuman bersoda mengalami patah tulang 5 kali lebih banyak daripada atlet remaja yang tidak mengkonsumsi minuman bersoda.
Meningkatkan Risiko Kanker Pankreas
Dalam suatu penelitian di Amerika Serikat, kandungan minuman bersoda dipercaya sebagai salah satu pemicu timbulnya kanker pankreas. Dalam penelitian tersebut, 87% responden yang minimal mengkonsumsi minuman bersoda 2 kali sehari mengalami peningkatan risiko kanker pankreas.
Penelitian dilakukan terhadap 60524 responden (pengonsumsi minuman bersoda) selama 14 tahun. Hasilnya, sebanyak 87% mengalami risiko kanker pankreas yang terlihat melalui gejala-gejalanya.
Meningkatkan Kerusakan pada Gigi
Dalam suatu penelitian, 3200 orang responden mengalami kerusakan gigi akibat mengkonsumsi minuman bersoda. Hal ini tentu saja akibat kandungan zat gula yang ada di dalam minuman tersebut. Tak hanya itu, asam fosfat juga turut memperburuk kerusakan gigi dengan cara melarutkan kalsium gigi.
Meningkatkan Ketergantungan pada Kafein
Minuman bersoda mengandung kafein. Zat ini sejak dulu dikenal sebagai zat yang mampu membuat orang ketergantungan. Meskipun kafein mempunyai efek positif terhadap tubuh, efek negatif kafein ternyata lebih banyak. Misalnya, membuat jantung berdebar, insomnia, tekanan darah rendah, dan lain-lain.
Setelah menyimak bahaya-bahaya minuman bersoda tersebut, ada baiknya Anda dan keluarga Anda segera mengganti menu minuman bersoda dengan minuman lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Misalnya, susu kedelai, air putih, teh hijau, teh hitam, jus buah segar, atau yoghurt. Dengan begitu, Anda akan terhindar dari risiko penyakit-penyakit serius yang mengancam tubuh.
Langganan:
Postingan (Atom)

