Welcome Note

Dear Visitors,
Welcome to this blog. You may or may not find what you are looking for here. In anycase, feel free to look around and browse the content. This is basically a space for me to share what little that I know from my experience and from 'peeping' into others' blogs. Oh, the wonder of internet! I do hope you can get some 'things' from this blog. Enjoy and have a great life!

Rabu, 08 Juli 2015

CERITA BUDDHIS: PIRING EMAS (Kisah Tentang Keserakahan dan Kejujuran)

Kisah ini diceritakan oleh Bhagawan ketika Beliau berada di Sawatthi, juga mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam daya upaya pelatihan dirinya.

Maka, pada saat dibawa oleh para bhikkhu seperti halnya dalam kisah sebelumnya, Sang Guru berkata, “Engkau, bhikkhu yang telah bertekad untuk melaksanakan ajaran yang begitu mulia, yang memungkinkan pencapaian kesucian, hendak menyerah berdaya upaya dalam pelatihan, hal ini akan membuahkan penderitaan panjang seperti seorang pedagang di Seri yang kehilangan sebuah mangkuk emas bernilai seratus ribu keping uang.”

Para bhikkhu memohon Bhagawan menjelaskan maksud perkataan Beliau kepada mereka. Beliau kemudian menjelaskan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali.
____________________
Suatu ketika pada masa lima kalpa yang lampau di Kerajaan Seri, Bodhisatta berdagang belanga dan tembikar, ia dikenal dengan sebutan ‘Serivan’. Bersama seorang pedagang keliling lainnya yang tamak, dengan barang dagangan yang sama, juga dikenal dengan sebutan ‘Serivan’, melintasi Sungai Telavāha dan memasuki Kota Andhapura. Mereka membagi daerah dagang dengan kesepakatan bersama dan masing-masing mulai berkeliling menjajakan dagangannya.

Di kota itu terdapat sebuah keluarga yang sangat miskin. Awalnya mereka adalah keluarga saudagar yang kaya, namun saat kisah ini terjadi, mereka telah kehilangan semua anak laki-laki dan saudara laki-laki beserta semua harta kekayaan mereka. Yang tersisa dalam keluarga itu hanyalah seorang anak gadis bersama neneknya, mereka bertahan hidup dengan menerima pekerjaan upahan. Tanpa menyadari bahwa mereka masih mempunyai sebuah mangkuk emas yang dulunya dipakai oleh saudagar kaya, kepala keluarga itu untuk menyantap makanan. Akan tetapi karena sudah lama tidak dipergunakan, mangkuk emas itu tersaput kotor dengan debu dan ditempatkan di antara tumpukan belanga dan tembikar. 

Saat itu, pedagang keliling yang tamak sedang berada di depan rumah mereka menjajakan barang dagangannya. Ia berteriak, “Kendi untuk dijual! Kendi untuk dijual!” Ketika gadis muda itu melihat ada seorang pedagang keliling di depan pintu rumah mereka, ia berkata kepada neneknya, “Ayolah, Nek, belikan saya sebuah perhiasan.” “Kita sangat miskin, Sayang; apa yang dapat kita tukarkan untuk mendapatkan perhiasan?” 

“Masih ada sebuah mangkuk yang tidak pernah kita gunakan, mari kita tukarkan dengan perhiasan untukku.” Wanita tua itu mempersilakan pedagang keliling tersebut masuk dan duduk, kemudian memberikan mangkuk itu kepadanya dan berkata, “Ambillah ini, Tuan. Berbaik hatilah dengan menukarkan sesuatu untuk saudarimu ini.”

Pedagang tamak itu mengambil mangkuk tersebut dan membalikkannya. Ia memperkirakan mangkuk itu terbuat dari emas, dengan menggunakan sebatang jarum ia menggores bagian belakang mangkuk dan yakin itu adalah sebuah mangkuk emas. Sambil memikirkan cara mendapatkan mangkuk tersebut tanpa memberikan apapun kepada wanita tua itu, ia berteriak, “Memangnya berapa harga mangkuk ini? Bahkan tidak bernilai seperdelapan sen!” Seraya bangkit dari tempat duduknya, ia melemparkan mangkuk itu ke lantai dan pergi dari rumah itu.

Sesuai kesepakatan mereka, setelah seorang pedagang selesai menjajakan dagangannya di suatu tempat, pedagang yang lain boleh mencoba peruntungannya di tempat yang telah ditinggalkan temannya; maka Bodhisatta datang ke jalan yang sama, berhenti di depan rumah tersebut dan berteriak, “Kendi untuk dijual!” Sekali lagi gadis muda itu mengulangi permintaannya. Wanita tua itu menjawab, “Sayangku, pedagang keliling sebelumnya telah melemparkan mangkuk ini ke lantai dan meninggalkan rumah kita. Barang apa lagi yang bisa kita tukarkan untuk mendapatkan perhiasan untukmu?”

“Pedagang tadi seorang yang kasar dalam berkata-kata, Nek. Sementara yang ini terlihat baik dan berbicara dengan ramah. Sepertinya ia akan menerima tawaran kita.” “Kalau begitu, panggillah ia kemari.” Maka pedagang itu pun masuk ke dalam rumah, setelah dipersilakan duduk, mereka menyerahkan mangkuk itu kepadanya. Melihat bahwa mangkuk itu terbuat dari emas, ia berkata, “Ibu, mangkuk ini bernilai seratus ribu keping uang. Saya tidak mempunyai uang sebanyak itu.”

“Tuan, pedagang yang kemari sebelum kedatanganmu mengatakan bahwa nilai mangkuk ini tidak melebihi seperdelapan sen. Ia melemparkan mangkuk ke lantai dan pergi dari rumah ini. Kemuliaan hatimu telah mengubah mangkuk ini menjadi emas. Ambillah mangkuk ini, berikan sesuatu barang atau yang lainnya kepada kami, dan lanjutkan perjalananmu.” 

Saat itu Bodhisatta memiliki lima ratus keping uang dan barang dagangan dengan nilai yang lebih besar. Ia memberikan semuanya kepada mereka dan berkata, “Saya akan menyisakan timbangan, tas dan delapan keping uang untuk saya simpan.” Atas persetujuan mereka, ia menyimpannya, kemudian dengan cepat berlalu ke pinggir sungai, memberikan delapan keping uang tersebut kepada tukang perahu dan naik ke perahu. 

Tidak lama kemudian, pedagang yang tamak itu kembali ke rumah tersebut, meminta mereka mengeluarkan mangkuk itu untuk ditukar dengan sesuatu barang atau yang lain. Wanita tua itu menemuinya dan berkata, “Engkau mengatakan mangkuk emas kami yang bernilai seratus ribu keping uang itu tidak bernilai bahkan seperdelapan sen. Namun datang seorang pedagang jujur (saya duga tuanmu) yang memberikan kami seribu keping uang, kemudian membawa mangkuk itu bersamanya.” Mendengar hal tersebut ia berteriak, “Ia telah merampok sebuah mangkuk emas yang bernilai seratus ribu keping uang dariku; ia telah menyebabkan aku menderita kerugian besar.” 

Kesedihan yang teramat sangat menderanya, ia kehilangan kendali dan terlihat seperti orang yang terganggu pikirannya. Uang dan barang dagangan dicampakkannya di depan pintu rumah itu; ia melepaskan pakaiannya; dengan membawa lengan timbangan sebagai alat pemukul, ia menyusul Bodhisatta sampai ke pinggir sungai. Melihat perahu telah berlayar, ia menjerit agar tukang perahu kembali ke pinggir sungai, namun Bodhisatta meminta tukang perahu untuk melanjutkan pelayaran tersebut. Ia berdiri di pinggir sungai, hanya bisa memandang Bodhisatta yang semakin jauh darinya, penderitaan yang amat sangat melandanya. Hatinya diliputi oleh kemarahan; darah mencurat dari bibirnya; jantungnya retak seperti lumpur di dasar permukaan tangki yang kering oleh sinar matahari. Karena memikul kebencian terhadap Bodhisatta, ia meregang nyawa di tempat itu pada saat itu juga. 

(Inilah saat pertama Devadatta menaruh dendam terhadap Bodhisatta). Bodhisatta yang menjalankan hidup dengan kemurahan hati dan perbuatan baik lainnya, terlahir kembali di alam sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.
____________________
Setelah menyampaikan kisah ini, Buddha, Yang Mahatahu mengucapkan syair berikut ini: —

Jika dalam keyakinan ini, engkau lengah dan gagal
untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diajarkan;
maka, seperti ‘Serivan’ si penjaja keliling,
sepanjang masa meratap sesal imbalan yang hilang akibat kedunguannya.

Setelah menguraikan Dhamma dengan cara yang dapat membimbing mereka pada pencapaian tingkat kesucian Arahat, Sang Guru memaparkan Empat Kebenaran Mulia secara terperinci. Di akhir khotbah, bhikkhu yang (tadinya) putus asa itu mencapai tingkat kesucian tertinggi, Arahat. Setelah menceritakan kedua kisah itu, Bhagawan menjelaskan pertautan keduanya dan memperkenalkan kisah kelahiran itu dengan menuturkan kesimpulan, “Saat itu, Devadatta adalah penjaja keliling yang tamak, dan Saya sendiri adalah penjaja keliling yang bijaksana dan baik itu.”

Sumber: http://www.wihara.com/topic/43251-jataka-3-serivija-jtaka/

CERITA JATAKA: Pangeran Monyet (Jataka 58)

Pada suatu ketika ada seekor raja monyet yang kejam yang berkuasa di Himalaya. Seluruh monyet dalam kelompoknya adalah istri dan anak-anaknya. Ia sangat takut bahwa suatu hari anak laki-lakinya akan tumbuh dewasa dan mengambil alih kekuasaannya sebagai raja. Jadi dia mengambil kebijakan untuk mengginggit setiap anak laki-lakinya sewaktu mereka lahir. Hal tersebut akan membuat mereka lemah untuk dapat melawan ayahnya.

Salah satu istri dari raja monyet mengandung. Bila saja ternyata yang lahir adalah anak laki-laki, ia ingin melindungi anak itu dari keputusan suaminya. Jadi ia melarikan diri menuju hutan di salah satu kaki gunung dan melahirkan bayinya di sana.

Tak lama kemudian bayi itu tumbuh menjadi besar dan kuat. Pada suatu hari ia bertanya kepada ibunya, "Dimanakah ayah saya?" Ibu mengatakan kepadanya, "Ia adalah seorang raja monyet di suatu kelompok yang hidup di kaki gunung yang letaknya jauh dari sini. Hal ini membuatmu menjadi seorang pangeran."

Pangeran monyet berkata, "Maukah ibu bermurah hati dan mengajakku menemuinya?" Ibu berkata, "Tidak anakku, saya takut untuk melakukannya. Ayahmu menggigit semua anak laki-lakinya agar mereka menjadi lemah sepanjang hidupnya. Ia takut salah satu dari anaknya akan mengambil alih kekuasaannya sebagai raja." Pangeran monyet beerkata, "Jangan mengkawatirkan aku, Ibu. Aku dapat menjaga diriku sendiri." Hal ini membuat ibunya percaya diri, maka ia menyetujuinya dan membawanya kepada ayahnya.
Ketika raja monyet ini melihat anaknya yang kuat, ia berpikir, "Saya tidak akan meragukan bahwa bila anakku tumbuh lebih kuat lagi, ia akan mengambil  alih kekuasaanku. Karenanya saya harus membunuhnya selagi saya masih mampu. Saya akan memeluknya, berpura-pura sebagai tanda cinta saya kepadanya. Tetapi sebenarnya saya akan menekannya sampai ia mati!"

Raja mengundang anaknya dan berkata, "Ah, Anakku yang telah lama hilang! Ke mana saja engkau selama ini? Aku sangat merindukanmu." Kemudian ia memeluk dan menekannya dengan kuat dan semakin kuat, mencoba untuk membunuhnya. Tetapi kekuatan pangeran monyet laksana gajah. Ia membalas menekan ayahnya. Ia menekan dengan erat dan semakin erat, sampai ia dapat merasakan tulang raja tua itu mulai retak.

Setelah kejadian yang buruk ini, raja monyet menjadi labih kawatir lagi bahwa suatu hari anaknya akan membunuhnya. Ia berpikir, "Dekat sini ada sebuah kolam yang dihuni oleh siluman air. Akan lebih mudah bila siluman air itu memangsa anakku. Lalu masalahku akan selesai.

Raja monyet berkata, "Oh putraku tercinta, sekarang adalah saat yang tepat bagi kamu untuk pulang ke rumah. Saya sudah tua dan saya akan memberikan kedudukanku kepadamu. Tetapi aku membutuhkan bunga-bunga untuk perayaan penobatanmu. Pergilah ke kolam dekat sini dan bawalah dua buah bunga lili air yang berwarna putih, tiga macam lili air berwarna biru, dan lima jenis teratai.'

Pangeran monyet berkata, "Baiklah ayahku aku akan pergi dan mengambilnya." Ketika ia tiba di kolam, ia melihat ada bermacam-macam lili air dan teratai yang tumbuh begitu banyak. Tetapi sebelum ia melompat dan mengambil bunga-bunga itu, ia terlebih dahulu menyelidikinya. Ia berjalan perlahan di sepanjang tepi kolam. Ia menemukan adanya jejak kaki yang arahnya menuju kedalam kolam, tetapi anehnya tidak ada sesuatu yang keluar dari kolam. Setelah mempertimbangkannya ia menyadari bahwa itu adalah pertanda bahwa kolam tersbut dikuasai oleh siluman air. Ia juga menyadari bahwa ayahnya pasti telah mengirimnya ke kolam ini agar terbunuh.

Ia menyelidiki tempat itu lebih lanjut, sampai ada bagian yang menyempit di kolam tersebut. Di situ, dengan kemampuannya, ia yakin dapat melompati kolam tersebut dari satu sisi ke sisi yang lain. Di tengah-tengah lompatannya menyeberangi kolam tersebut ia dapat menggapai bunga-bunga yang tumbuh di tengah kolam dan memetiknya, tanpa ia harus terjun ke dalam air. Lalu ia melompat balik untuk memtik bunga lebih banyak lagi. Ia terus melompat bolak-balik untuk mengumpulkan bunga-bunga itu.

Tiba-tiba siluman air memunculkan kepalanya ke atas permuakaan air. Ia berseru, "Selama aku tinggal di sini, aku tidak pernah melihat seorang pun baik manusia atau pun binatang sebijaksana momyet ini. Ia telah berhasil memtik semua bunga yang diinginkannya tanpa pernah menyentuh lingkungan kekuasaanku, dalam kerajaan airku.

Lalu siluman yang  menakutkan itu membuat jalur baginya untuk melewati air dan naik ke tepi kolam. Ia berkata, "Tuanku, Pangeran monyet, ada tiga sifat yang membuat seseorang tak terkalahkan oleh musuh-musuhnya. Sepertinya semua sifat itu ada pada dirimu yaitu kemampuan, keberanian, dan kebijaksanaan. Kau pasti tidak bisa terkalahkan. Katakanlah padaku, Pemberani! Mengapa kaumengumpulkan semua bunga-bunga ini?"

Pangeran monyet berkata, "Ayahku menginginkan aku menjadi raja di daerahnya. Ia menginginkanku ke sini utuk mengumpulkan bunga-bunga ini untuk penobatanku menajdi raja." Siluman air berkata, 'Kau terlalu mulia untuk dibebani dengan membawa bungta-bunga ini. Biarkan aku yang membawanya untukmu." Ia mengambil semua bunga itu dan mengikuti pangeran monyet.

Dari kejauhan raja monyet melihat siluman air membawa bunga-bunga dan mengikuti pangeran. Ia berpikir, "Aku mengirimnya untuk mengumpulkan bunga dengan tujuan agar ia dimangsa siluman air. Tetapi ternyata malah ia membuat siluman air ini menjadi pembantunya. Aku kalah!" Raja monyet khawatir seluruh perbuatan jahatnya akan terbongkar. Ia menjadi panik, sehingga kepanikan itu menyebabkan hatinya pecah menjadi tujuh bagian. Dan akhirnya ia mati seketika. Kemudian kelompok monyet memutuskan untuk mengangkat pangeran onyet menjadi raja baru mereka.

Hikamhnya: Kejujuran, kewaspadaan dan kebijaksanaan (pandai) akan membuat seseorang berhasil mencapai tujuan.

Sumber: http://dasaparamita.blogspot.com/2009/03/menceritakan-kisah-pangeran-monyet.html

Penilaian Kinerja (Performance Appraisal)

Selama ini, para ahli di bidang manajemen sumber daya manusia seringkali disibukkan dengan pemikiran bagaimana para karyawan ditarik, dipilih, dikembangkan, dan dibentuk menjadi kelompok – kelompok kerja yang kohesif. Meskipun kegiatan – kegiatan tersebut penting, tetapi ukuran terakhir keberhasilan departemen personalia adalah prestasi kerja (performance) karyawan. Baik departemen personalia maupun karyawan memerlukan feedback atas upaya – upaya yang telah mereka lakukan selama ini.

Definisi prestasi kerja menurut Lawler (dalam As’ad, 1991) adalah suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaannya secara efisien dan efektif. Lawler & Porter (dalam As’ad, 1991) menyatakan bahwa prestasi kerja adalah kesuksesan kerja yang diperoleh seseorang dari perbuatan atau hasil yang bersangkutan. Dalam lingkup yang lebih luas, Jewell & Siegall (1990) menyatakan bahwa prestasi merupakan hasil sejauh mana anggota organisasi telah melakukan pekerjaan dalam rangka memuaskan organisasinya.

Definisi prestasi kerja menurut Hasibuan (1990) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan, serta waktu.

Pengertian    prestasi  kerja  disebut  juga  sebagai  kinerja  atau  dalam  bahasa Inggris disebut dengan performance. Pada prinsipnya, ada  istilah  lain yang  lebih menggambarkan pada “prestasi” dalam bahasa Inggris yaitu kata “achievement”. Tetapi karena kata tersebut berasal dari kata “to achieve” yang berarti “mencapai”, maka  dalam  bahasa  Indonesia  sering  diartikan menjadi  “pencapaian”  atau “apa yang dicapai”. (Ruky:15)

Bernardin dan Russel (1993:378) memberikan definisi tentang prestasi kerja sebagai berikut : “performance is defined as the record of outcome produced on a specified job function or activity during a  specified  time period”  (Prestasi kerja didefinisikan sebagai  catatan  dari  hasil-hasil  yang  diperoleh melalui  fungsi-fungsi  pekerjaan tertentu atau kegiatan selama tempo waktu tertentu).

Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa prestasi kerja  lebih menekankan pada  hasil  atau  yang  diperoleh  dari  sebuah  pekerjaan  sebagai  kontribusi  pada perusahaan.

Rahmanto  menyebutkan  prestasi  kerja  atau  kinerja  sebagai  tingkat  pelaksanaan  tugas  yang  bisa  dicapai  oleh  seseorang,  unit,  atau  divisi,   dengan  menggunakan  kemampuan yang  ada dan batasan-batasan yang  telah  ditetapkan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Zeitz (dalam Baron & Byrne, 1994) mengatakan bahwa prestasi kerja dipengaruhi oleh dua hal utama, yaitu faktor organisasional (perusahaan) dan faktor personal. Faktor organisasional meliputi sistem imbal jasa, kualitas pengawasan, beban kerja, nilai dan minat, serta kondisi fisik dari lingkungan kerja. Diantara berbagai faktor organisasional tersebut, faktor yang paling penting adalah faktor sistem imbal jasa, dimana faktor tersebut akan diberikan dalam bentuk gaji, bonus, ataupun promosi. Selain itu, faktor organisasional kedua yang juga penting adalah kualitas pengawasan (supervision quality), dimana seorang bawahan dapat memperoleh kepuasan kerja jika atasannya lebih kompeten dibandingkan dirinya.

Sementara faktor personal meliputi ciri sifat kepribadian (personality trait), senioritas, masa kerja, kemampuan ataupun keterampilan yang berkaitan dengan bidang pekerjaan dan kepuasan hidup. Untuk faktor personal, faktor yang juga penting dalam mempengaruhi prestasi kerja adalah faktor status dan masa kerja. Pada umumnya, orang yang telah memiliki status pekerjaan yang lebih tinggi biasanya telah menunjukkan prestasi kerja yang baik. Status pekerjaan tersebut dapat memberikannya kesempatan untuk memperoleh masa kerja yang lebih baik, sehingga kesempatannya untuk semakin menunjukkan prestasi kerja juga semakin besar.

Blumberg & Pringle (dalam Jewell & Siegall, 1990) juga menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan prestasi kerja seseorang, yaitu kesempatan, kapasitas, dan kemauan untuk melakukan prestasi. Kapasitas terdiri dari usia, kesehatan, keterampilan, inteligensi, keterampilan motorik, tingkat pendidikan, daya tahan, stamina, dan tingkat energi. Kemauan terdiri dari motivasi, kepuasan kerja, status pekerjaan, kecemasan, legitimasi, partisipasi, sikap, persepsi atas karakteristik tugas, keterlibatan kerja, keterlibatan ego, citra diri, kepribadian, norma, nilai, persepsi atas ekspektasi peran, dan rasa keadilan. Sedangkan kesempatan meliputi alat, material, pasokan, kondisi kerja, tindakan rekan kerja, perilaku pimpinan, mentorisme, kebijakan, peraturan, prosedur organisasi, informasi, waktu, serta gaji.

Prestasi kerja inilah yang akan diukur melalui performance appraisal. Penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah proses di mana organisasi – organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan – keputusan departemen personalia dan memberikan feedback kepada para karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka.

Performance appraisal hendaknya memberikan suatu gambaran akurat mengenai prestasi kerja karyawan di mana sistem penilaian harus memiliki sifat sebagai berikut :

Job – related
Sistem penilaian harus mempnyai hubungan dengan pekerjaan. Sistem ini menilai perilaku – perilaku kritis yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan kerja dari suatu perusahaan.

Praktis
Sistem penilaian harus dipahami dan dimengerti oleh penilai dan para karyawan.

Memiliki standar – standar pelaksanaan kerja
Pelaksanaan performance appraisal memerlukan standar – standar pelaksanaan kerja (performance standards) untuk mengukur prestasi kerja. Agar efektif, hendaknya standar – standar tersebut berhubungan dengan hasil – hasil yang diinginkan dari setiap pekerjaan.

Memiliki ukuran – ukuran prestasi kerja
Performance appraisal juga memerlukan ukuran prestasi kerja yang dapat diandalkan (performance measures). Ukuran – ukuran tersebut harus mudah digunakan, bersifat reliable, dan dapat melaporkan perilaku – perilaku kritis yang menentukan prestasi kerja. Dimensi lain dari ukuran – ukuran prestasi kerja adalah apakah ukuran tersebut berdifat objektif ataukah subjektif. Ukuran – ukuran yang objektif adalah yang dapat dibuktikan atau diuji oleh orang lain, sedangkan yang subjektif adalah yang tidak dapat dibuktikan atau diuji oleh orang lain.

Sebelum melakukan performance appraisal hendaknya kita terlebih dahulu mempersiapkan orang yang melakukan penilaian. Penilai seringkali melibatkan emosi dalam melakukan performance appraisal sehingga evaluasi menjadi bias. Bias di sini maksudnya adalah adanya distorsi pengukuran yang tidak akurat, terutama saat menilai ukuran – ukuran yang sifatnya subjektif.

Hal tersebut dapat dikurangi dengan cara :
Pemberian pelatihan bagi para penilai.
Pelatihan bagi para penilai ini meliputi 3 tahap, yaitu :
Menjelaskan berbagai bias dan penyebabnya.
Menjelaskan tentang pentingnya objektivitas dalam pelaksanaan performance appraisal.
Memberi kesempatan bagi para penilai untuk mempraktikkan ilmu yang mereka dapat selama pelatihan sebagai bagian dari latihan mereka.
Pemberian feedback mengenai hasil penilaian mereka sebelumnya.
Feedback ini memungkinkan para penilai memperbaiki perilaku penilaian mereka di kemudian hari.


Pemilihan metode performance appraisal yang tepat.
Metode Pelaksanaan Performance Appraisal

Metode yang berorientasi terhadap masa lalu
Kelebihan dari metode ini adalah dapat mengukur prestasi kerja yang telah terjadi sebelumnya, sedangkan kelemahannya adalah tidak dapat mengubah atau memperbaiki prestasi kerja di masa lalu. Tetapi dengan mengevaluasi prestasi kerja karyawan di masa lalu, para karyawan memperoleh feedback mengenai upaya – upaya yang telah mereka lakukan. Feedback ini yang kemudian dipakai sebagai patokan untuk memperbaiki prestasi kerja karyawan di masa depan.

Metode ini meliputi :

Rating scale
Teknik ini adalah bentuk performance appraisal yang tertua dan paling banyak digunakan, biasa dilakukan oleh atasan secara langsung. Pada teknik ini, evaluasi subjektif dilakukan oleh penilai terhadap prestasi kerja karyawan. Evaluasi hanya didasarkan pada pendapat penilai yang membandingkan hasil pekerjaan karyawan dengan faktor – faktor yang dianggap penting bagi pelaksanaan pekerjaan tersebut. Dalam banyak kasus, faktor – faktor tersebut mungkin juga tidak berhubungan langsung dengan pelaksanaan kerja.

Kelebihan teknik ini  antara lain :
a. Tidak memakan biaya administrasi yang besar.
b. Tidak memerlukan banyak pelatihan untuk penilai.
c. Proses pelaksanaannya tidak memakan waktu lama.
d. Teknik ini dapat diterapkan untuk organisasi dengan jumlah karyawan yang besar.

Kelemahannya adalah sulitnya menentukan faktor – faktor yang relevan dalam pelaksanaan pekerjaan dan besarnya unsur subjektivitas yang dipakai penilai dalam melaksanakan performance appraisal sehingga hasil penilaian cenderung bias.

Checklist
Teknik ini bertujuan mengurangi beban penilai. Penilai tinggal memilih item – item, yang berisi berbagai statement, yang menggambarkan prestasi kerja dan karakteristik karyawan. Seperti pada teknik rating scale, penilai biasanya adalah atasan langsung. Departemen personalia juga dapat memberikan bobot tertentu pada item – item tertentu pada daftar checklist. Pemberian bobot ini memungkinkan penilaian dapat dikuantifikasikan sehingga skor total dapat ditentukan.

Kelebihannya antara lain :
a. Ekonomis
b. Mudah administrasinya
c. Tidak memerlukan banyak pelatihan untuk penilai.
d. Sudah terstandardisasi

Kelemahannya :
a. Adanya penggunaan faktor kepribadian di samping faktor yang berhubungan dengan prestasi kerja.
b. Adanya pengaruh halo effect yang memungkinkan hasil penilaian menjadi bias.
c. Salah menginterpretasikan item – item dalam checklist.
d. Pemberian bobot yang tidak tepat terhadap item – item tertentu.

Metode peristiwa kritis (critical incident method)
Teknik ini merupakan teknik penilaian yang didasarkan pada catatan – catatan penilai yang menggambarkan perilaku karyawan sangat baik ataukah sangat buruk dalam kaitannya dengan pelaksanaan kerja. Catatan – catatan inilah yang disebut peristiwa – peristiwa kritis. Berbagai peristiwa tersebut dicatat selama periode evaluasi terhadap setiap karyawan.

Teknik ini sangat berguna dalam memberikan feedback kepada karyawan dan mengurangi kesalahan recency effect. Kelemahannya adalah para penilai (biasanya para atasan) sering tidak berminat melakukan pencatatan atau cenderung mengada – ada dan bersikap subjektif.

Field review method (metode peninjauan lapangan)
Dengan teknik ini, wakil ahli departemen personalia turun dan ikut membantu para penilai dalam melakukan performance appraisal. Spesialis personalia mendapatkan informasi khusus dari atasan langsung tentang prestasi kerja karyawan. Kemudian mereka mempersiapkan evaluasi atas dasar informasi tersebut. Evaluasi dikirim kepada penilai untuk direview, diubah, dilakukan persetujuan, dan dibahas dengan karyawan yang dinilai.

Tes dan observasi prestasi kerja
Bila jumlah pekerjaan terbatas, performance appraisal bisa didasarkan pada tes pengetahuan dan ketrampilan, berupa tes tertulis atau peragaan ketrampilan. Tes yang dilakukan harus valid dan reliable.

Observasi – observasi di sini dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Observasi langsung terjadi apabila penilai secara langsung atau nyata melihat pelaksanaan kerja., sedangkan observasi tidak langsung terjadi apabila penilai hanya dapat menilai tiruan pelaksanaan kerja sehingga hasil penilaian pun mungkin kurang akurat.



Metode evaluasi kelompok
Ada beberapa teknik untuk melakukan evaluasi terhadap kelompok – kelompok karyawan. Penilaian seperti ini biasanya dilakukan oleh penilai atau atasan langsung. Teknik evaluasi kelompok ini berguna untuk pengambilan keputusan tentang hal – hal yang berkaitan dengan pemberian kompensasi, promosi jabatan, dan berbagai bentuk pemberian penghargaan organisasional karena saat menerapkan teknik ini dapat diketahui ranking karyawan dari yang terbaik hingga yang terburuk.


Teknik ini meliputi :
a. Metode ranking
Penilai membandingkan karyawan yang satu dengan karyawan yang lain untuk menentukan siapa yang lebih baik kemudian menempatkan setiap karyawan dalam urutan dari yang terbaik hingga yang terburuk. Departemen personalia dapat mengetahui karyawan mana yang lebih unggul berdasarkan ranking tetapi tidak dapat diketahui seberapa besar perbedaan prestasi kerja mereka.
Kelebihan teknik ini menyangkut kemudahan administrasi dan penjelasannya, sedangkan kelemahannya antara lain :
–        Sulitnya menentukan faktor – faktor pembanding.
–        Penilai mungkin terpengaruh dengan halo effect atau recency effect sehingga hasil penilaian mungkin bias.
b. Grading / Forced Distributions
c. Point Allocation Method
Metode yang berorientasi terhadap masa depan
Metode ini memusatkan perhatian pada prestasi kerja karyawan di masa depan melalui penilaian potensi karyawan atau penetapan sasaran prestasi kerja di masa depan. Metode ini meliputi :

Penilaian diri (self appraisal)
Teknik ini berguna apabila tujuan evaluasi adalah untuk melanjutkan pengembangan diri karyawan. Apabila karyawan menilai dirinya sendiri, perilaku defensif cenderung tidak terjadi, sehingga upaya perbaikan diri juga cenderung dilakukan.

Penilaian psikologis (psychological appraisal)
Penilaian ini pada umumnya terdiri dari wawancara mendalam, tes – tes psikologis, diskusi dengan atasan secara langsung, dan review – review lainnya. Penilaian psikologis biasa dilakukan oleh para psikolog, terutama untuk menilai potensi karyawan di masa depan. Evaluasi terhadap segi – segi intelektual, emosional, motivasi karyawan, dan karakteristik hubungan pekerjaan lainnya diharapkan dapat membantu untuk memperkirakan prestasi kerja karyawan di masa depan. Hasil evaluasi tersebut biasanya digunakan sebagai dasar keputusan penempatan dan pengembangan diri karyawan. Akurasi penilaian sepenuhnya tergantung pada ketrampilan psikolog.

Pendekatan management by objectives (MBO)
Inti dari pendekatan ini adalah seluruh karyawan, manajer, dan direksi bersama – sama menetapkan tujuan organisasi dan sasaran – sasaran pelaksanaan kerja di masa depan. Seiring dengan penetapan tujuan dan sasaran tersebut, performance appraisal juga dilakukan bersama – sama.

Teknik pusat penilaian (assessment centers)
Untuk membantu identifikasi potensi manajemen di masa depan, banyak organisasi besar yang mendirikan pusat – pusat penilaian (assessment centers). Assessment centers adalah suatu bentuk penilaian karyawan yang distandardisasikan tergantung pada berbagai tipe penilaian yang ditentukan penilai. Penilaian ini bisa meliputi wawancara mendalam, tes – tes psikologis, diskusi kelompok, simulasi, dan teknik – teknik lain untuk mengevaluasi potensi karyawan di masa depan.

Implikasi dan Arti Penting Performance Appraisal
Performance appraisal menghasilkan suatu evaluasi atas prestasi kerja karyawan di masa lalu dan / atau prediksi prestasi kerja mereka di masa depan. Proses penilaian ini akan sia – sia apabila para karyawan tidak menerima feedback mengenai prestasi kerja mereka. Tanpa adanya pemberian feedback kepada para karyawan, perilaku karyawan tidak akan dapat diperbaiki.

Untuk mengantisipasi hal di atas, perlu dilakukan wawancara evaluasi. Wawancara evaluasi adalah periode peninjauan kembali hasil penilaian prestasi kerja yang memberikan feedback kepada karyawan tentang prestasi kerja mereka di masa lalu maupun potensi mereka di masa depan. Berikut ini beberapa pedoman yang perlu diperhatikan agar wawancara evaluasi berlangsung secara efektif :

Penilai hendaknya menekankan pada aspek – aspek positif tentang hasil penilaian prestasi kerja karyawan.
Performance appraisal ini sebenarnya untuk meningkatkan prestasi kerja, bukan untuk menegakkan kedisiplinan.
Wawancara evaluasi hendaknya dilakukan secara pribadi, sehingga gangguan – gangguan yang tidak perlu terjadi dapat diminimalisasikan.
Melakukan performance appraisal formal secara rutin, paling tidak setiap tahun, atau lebih sering dilakukan untuk karyawan baru atau karyawan yang berprestasi buruk.
Penilai hendaknya mengajukan kritik – kritik yang spesifik.
Penilai hendaknya memusatkan kritik – kritik pada hal – hal yang berkaitan dengan prestasi kerja, bukan yang berkaitan dengan karakteristik karyawan.
Selalu menjaga suasana tetap tenang dan jauh dari perdebatan.
Penilai hendaknya mampu mengidentifikasi kegiatan – kegiatan khusus yang dapat dilakukan karyawan untuk memperbaiki prestasi kerja mereka.
Penilai hendaknya menunjukkan kesan ingin membantu usaha – usaha perbaikan prestasi kerja karyawan.

Performance appraisal juga menyediakan feedback tentang efektivitas fungsi manajemen personalia. Proses penilaian ini berfungsi sebagai quality control. Terlalu banyak karyawan yang berprestasi buruk mencerminkan adanya kesalahan pada satu atau beberapa fungsi manajemen personalia. Manajemen personalia perlu memonitor hasil – hasil penilaian tersebut, karena hasil tersebut dapat menjadi barometer fungsi manajemen personalia secara keseluruhan.


Dengan ini, dapat disimpulkan arti penting performance appraisal adalah sebagai berikut :

Perbaikan prestasi kerja
Pemberian feedback pada karyawan dan departemen personalia dapat dijadikan patokan untuk memperbaik prestasi kerja mereka.

Penyesuaian pemberian kompensasi pada karyawan
Hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk menentukan kenaikan upah, pemberian bonus, dan bentuk – bentuk pemberian kompensasi lainnya.

Pembuatan keputusan yang berkaitan dengan penempatan posisi karyawan
Hasil performance appraisal dengan menggunakan metode yang berorientasi pada masa lalu dapat dijadikan patokan apakah seorang karyawan mendapat promosi, transfer, atau demosi jabatan.

Identifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan
Prestasi kerja yang buruk mencerminkan adanya kebutuhan pelatihan, sebaliknya prestasi kerja yang baik mencerminkan adanya potensi yang perlu dikembangkan.

Perencanaan dan pengembangan karier karyawan
Pemberian feedback pada karyawan dapat dijadikan dasar untuk menentukan jalur karier mana yang akan dipilih oleh karyawan tersebut.

Mengetahui penyimpangan yang terjadi pada tahap staffing
Prestasi kerja yang baik atau buruk mencerminkan kekuatan atau kelemahan dari prosedur staffing yang telah ditetapkan oleh departemen personalia.

Ketidakakuratan informasional pada organisasi
Prestasi kerja yang buruk mungkin mencerminkan kesalahan dalam melakukan analisis informasi jabatan, perencanaan sumber daya manusia, atau komponen – komponen lain dari sistem informasi manajemen sumber daya manusia.

Kesalahan yang terjadi saat menentukan desain pekerjaan
Prestasi kerja yang buruk mungkin mencerminkan adanya kesalahan saat menentukan desain pekerjaan.



Memberikan kesempatan kerja yang adil
Performance appraisal yang dilakukan secara akurat akan menjamin keputusan – keputusan penempatan internal juga dilakukan dengan tepat tanpa adanya diskriminasi.


Identifikasi tantangan – tantangan eksternal
Dengan melakukan performance appraisal, departemen personalia dapat mengajukan solusi yang berkaitan dengan tantangan – tantangan eksternal, seperti masalah – masalah yang berkaitan dengan keluarga, kondisi finansial, atau masalah – masalah pribadi lainnya.

Kesimpulan
Penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah proses di mana organisasi – organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan – keputusan departemen personalia dan memberikan feedback kepada para karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka.

Performance appraisal menghasilkan suatu evaluasi atas prestasi kerja karyawan di masa lalu dan / atau prediksi prestasi kerja mereka di masa depan. Proses penilaian ini akan sia – sia apabila para karyawan tidak menerima feedback mengenai prestasi kerja mereka. Tanpa adanya pemberian feedback kepada para karyawan, perilaku karyawan tidak akan dapat diperbaiki.

Performance appraisal juga menyediakan feedback tentang efektivitas fungsi manajemen personalia. Proses penilaian ini berfungsi sebagai quality control. Terlalu banyak karyawan yang berprestasi buruk mencerminkan adanya kesalahan pada satu atau beberapa fungsi manajemen personalia. Manajemen personalia perlu memonitor hasil – hasil penilaian tersebut, karena hasil tersebut dapat menjadi barometer fungsi manajemen personalia secara keseluruhan.

Saran
Mempersiapkan penilai yang sebisa mungkin tidak melibatkan unsur emosi dan subjektivitas dalam melakukan penilaian.
Menentukan faktor – faktor atau kriteria – kriteria penilaian dengan objektif dan berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.


Daftar Pustaka

As’ad, Moh. Seri Ilmu Sumber Daya Manusia, Psikologi Industri,  Edisi Keempat,

Cetakan Pertama, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1991.

Asnawi, S. (1999). Aplikasi psikologi dalam manajemen sumber daya manusia perusahaan. Jakarta : Pusgrafin

Dessler, G. (1988). Personnel management. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc.

Drucker, Peter F.,  Manajemen, Tugas Tanggung Jawab-Praktek,  Cetakan Kedua,

Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1983.

Feinberg, M.R. (1992). Effective psychology for managers. Englewood Cliff, New Jersey : Prentice-Hall

Filippo, Edwin B., Manajemen PersonaIia, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1992.

Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., Donnely, J.M. (1985). Organizations behavior, structure, processes. Plano : Business Publication.

Grivin, R.W. & Ebert, R.J. (1996). Business. Englewood Cliff, New Jersey : Prentice Hall, Inc.

Handoko, T.Hani, Manajemen Personalia Dan Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua, Penerbit BPFE, Yogyakarta, 1987.

Hasibuan, M.S.P. (1990). Manajemen sumber daya manusia: dasar kunci keberhasilan. Jakarta: CV Haji Mas Agung.

Jewell & Siegall, M. (1990). Psikologi industri/organisasi modern. Jakarta: Penerbit Arcan.

Robbins, S.P. (1983). Organizational behavior: concept, controversion & application (Edisi ke-5). San Diego: Prentice Hall International, Inc.

Robbins, S.P. (2003). Organizational behavior. New Jersey: Prentice Hall.

Werther, W.B. & Davis, K. (1993). Human resource and personnel management. New York: McGraw-Hill, Co.

Tutus, Moh. Agus,  Drs., Manajemen Sumber Daya Manusia, Buku  Panduan

Mahasiswa,  Cetakan Keempat, Penerbit PT. Gramedia, Pustaka  Utama, Jakarta, 1995.

Sumber: http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/prestasi-kerja.html


Empat Kompetensi Guru (Pedagogik, Kepribadian, Profesional, dan Sosial)

A. Pengertian Kompetensi Guru
Majid (2005:6) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Diyakini Robotham (1996:27), kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman.
Kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang berkaitan dengan kinerja berkriteria efektif dan atau unggul dalam suatu pekerjaan dan situasi tertentu. Depdiknas (2004:7) merumuskan definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Menurut Syah (2000:230), “kompetensi” adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.
Kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional adalah guru piawi dalam melaksanakan profesinya.
Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.  Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.
a. Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran
Merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan.
b. Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar
Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan  teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar menyangkut pengelolaan pembelajaran, dalam menyampaikan materi pelajaran harus dilakukan secara terencana dan sistematis, sehingga tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terlihat dalam mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal siswa, kemudian mendiagnosis, menilai dan merespon setiap perubahan perilaku siswa. Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.
c. Kompetensi Melaksanakan Penilaian Proses Belajar Mengajar
Menurut Sutisna (1993:212), penilaian proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai maksud-maksud yang telah ditetapkan.
Commite dalam Wirawan (2002:22) menjelaskan, evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap upaya manusia, evaluasi yang baik akan menyebarkan pemahaman dan perbaikan pendidikan, sedangkan evaluasi yang salah akan merugikan pendidikan. Tujuan utama melaksanakan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa, sehingga tindak lanjut hasil belajar akan dapat diupayakan dan dilaksanakan. Dengan demikian, melaksanakan penilaian proses belajar mengajar merupakan bagian tugas guru yang harus dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat diupayakan tindak lanjut hasil belajar siswa.
2. Kompetensi Kepribadian
Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mendidik, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.  Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu dan ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik.
Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi pribadi meliputi:
*      pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama.
*      pengetahuan tentang budaya dan tradisi.
*      pengetahuan tentang inti demokrasi.
*      pengetahuan tentang estetika.
*      memiliki apresiasi dan kesadaran sosial.
*      memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan.
*      setia terhadap harkat dan martabat manusia.
Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri pribadi. Kompetensi kepribadian guru tercermin dari indikator sikap dan keteladanan.
3. Kompetensi Profesional
Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi profesional guru mencakup kemampuan dalam hal
*      mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya,
*      mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku peserta didik,
*      mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya,
*      mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai,
*      mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain,
*      mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran,
*      mampu melaksanakan evaluasi belajar
*      mampu menumbuhkan motivasi peserta didik.
4. Kompetensi Sosial
Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, menjelaskan kompetensi sosial guru adalah salah satu daya atau kemampuan guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Untuk dapat melaksanakan peran sosial kemasyarakatan, guru harus memiliki kompetensi:
*      aspek normatif kependidikan, yaitu untuk menjadi guru yang baik tidak cukup digantungkan kepada bakat, kecerdasan, dan kecakapan saja, tetapi juga harus beritikad baik sehingga hal ini bertautan dengan norma yang dijadikan landasan dalam melaksanakan tugasnya.
*      pertimbangan sebelum memilih jabatan guru.
*      mempunyai program yang menjurus untuk meningkatkan kemajuan masyarakat dan kemajuan pendidikan.



Sumber : http://rastodio.com/pendidikan/pengertian-kompetensi-guru.html

Selasa, 07 Juli 2015

From the Depth of our Hearts. (Inspirational People)

Life is a stage. Hidup adalah sebuah panggung. Di mana kita semua adalah pemainnya, suka atau tidak suka. Berbagai melodi dan drama harus dimainkan, naik-turun, pasang-surut, silih berganti. Banyak sisi-sisi kehidupan yang terkadang luput dari mata kita namun tersimpan dalam hati kita yang terdalam, menjadi kenangan-kenangan terindah yang mempengaruhi jalan hidup kita. Kisah-kisah yang terpatri dalam sanubari, sering kali tak terungkapkan, betapa kita dalam menjalani hidup senantiasa dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita, bahkan orang-orang yang tampaknya tidak berhubungan langsung dengan hidup kita sehari-hari.  It can be our father, mother, aunts and uncles, friends, anyone.
Tulisan kali ini mengangkat beberapa cerita hati dari para remaja tentang orang-orang terkasih dan orang-orang yang telah menginspirasi sehingga mereka mampu bertumbuh menjadi pribadi-pribadi spesial dan luar biasa. Berikut kisah-kisahnya:

Orang yang  berpengaruh penting dalam kehidupan saya adalah kedua orang tua saya. Karena mereka, saya bisa berdiri tegak di bumi ini. Karena mereka juga, saya bisa menguasai berbagai  ilmu pengetahuan dan keterampilan, termasuk menyanyi. Singkat cerita, suatu hari di masa lalu saat saya duduk di kelas tiga sekolah dasar, diadakan suatu ajang perlombaan menyanyi. Orang tua saya pun menyuruh saya untuk mengikuti ajang tersebut. Awalnya saya menolak karena takut kalah dan kurang percaya diri. Tetapi mereka terus memberikan semangat kepada saya dan akhirnya sayapun bersedia.
Hari perlombaan pun datang, mama sibuk mendandaniku. Saat tiba di tempat perlombaan, hatiku semakin dag dig dug melihat peserta-peserta lain dengan suara yang bagus-bagus. Semangatku hampir turun, tetapi mama dan papa tetap mendukungku agar aku tetap berani dan percaya diri. Ketika tiba giliranku untuk tampil, rasa gugup tetap menemani, sampai akhirnya aku berhasil menyelesaikan lagu yang kubawakan.
Pengumuman pemenang dilakukan pada keesokan hari. Aku setengah tak percaya, ternyata aku memperoleh juara ketiga! Meskipun itu belumlah termasuk kategori maksimal, aku bangga karena telah membuat orang tuaku senang melihat prestasiku. Sejak saat itu aku terus berusaha dan melatih diri. Hingga kini aku telah berhasil menjadi juara dan memperoleh banyak piala khususnya dari bidang tarik suara. 
Terima kasih mama, papa, karena kalian aku menjadi percaya diri dan menjadi seperti ini! (NP/112014)
Beautiful!

Orang-orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan pribadiku adalah kedua orang tuaku. Sejak kecil aku selalu dibimbing dan diajarkan tentang hal-hal yang belum kuketahui oleh mereka. Mereka selalu membimbingku. Ketika aku melakukan kesalahan, mungkin mereka memang menegurku. Tetapi karena teguran dari merekalah aku tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Ayahku adalah sosok yang memotivasiku untuk terus bekerja keras dan berusaha sebaik mungkin tanpa menyerah. Ayah yang menafkahi keluarga kami, memimpin kami, dan menasehati kami. Beliau adalah seorang yang tegas dan tidak akan segan-segan memarahi kami ketika kami berbuat salah, agar kami menjadi lebih baik. Terkadang sewaktu aku tidak mengerti pelajaran matematika, beliau pasti akan mengajariku. Ayahku adalah yang terbaik.
Ibuku adalah seorang yang sabar, pekerja keras, dan bisa diajak untuk bercanda. Ibulah yang mengurusku sejak kecil tanpa mengeluh. Setiap kali aku pulang dari sekolah, ibu pasti datang menyambut dan menyiapkan makanan. Terkadang kami bercanda bersama dengan karyawan dan tertawa terbahak-bahak. Ibu adalah orang yang paling kusayang.
Meskipun kedua orang tuaku terkadang memarahiku dan menegurku, aku tetap dan selalu menyayangi mereka. (VT/112014)
Mom and Dad are the Best!


Orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya adalah nenek saya, bibi saya, dan sahabat saya. Yang paling berpengaruh adalah nenek saya dan sahabat saya yang selalu memberi semangat. Walaupun  nenek saya cerewet namun beliau selalu mengingatkan saya dalam segala hal terutama dalam hal belajar. Setiap hari saya kena marah jika saya lupa belajar dan banyak bermain. Ketika saya melihat nilai saya yang sangat mengecewakan dan nenek saya dipanggil ke sekolah, saat itu saya merasa sangat tidak enak. Saya pun berusaha lebih keras dan tidak akan mengecewakan mereka.
Sahabat saya selalu menyemangati dan memberikan motivasi bagi saya dalam belajar. Saya akan berusaha lebih baik lagi dan lebih semangat dalam belajar hingga saya lulus sekolah nanti. (RR/112014)
Have faith!
Your struggle will bring victory!


Mamaku, seseorang yang telah membesarkanku. Beliau pergi bekerja pagi hingga sore hari untuk menyekolahkan aku dan adikku. Untung ada papa yang juga mencari nafkah. Dengan sabar dan tabah beliau menghadapi semua rintangan. Walau sakit, beliau tidak akan membiarkan kami kelaparan. Demi kami, beliau rela bangun pagi-tidur malam. Benar-benar patut dihormati. Beliau juga membimbingku di bidang akademik sampai benar-benar bisa, dan juga mendukungku mengembangkan bakat positifku dengan cara apapun. Ibu yang patut dibanggakan.

Papaku, seseorang yang menjadi tulang punggung keluargaku. Beliau mencari nafkah di tempat yang jauh. Seminggu sekali beliau berkunjung. Setiap hari beliau menelepon kami untuk melepaskan rindu. Beliau rela bekerja penuh bahkan lembur hanya untuk membiayai keperluan kami, terutama sekolah. Beliau selalu sabar menghadapi permintaan-permintaan kami dan mengabulkannya. Benar-benar seseorang yang berjasa.
Guru-guruku, mereka rela mengajari kami walau panas maupun hujan. Itu karena kepedulian mereka terhadap murid-muridnya. Sebagai orang tua kedua, mereka juga senang melihat kami berbakat, bahkan mendukung. Walau kadang kesal dan marah-marah, itu semua demi kebaikan kami.
Teman-temanku dan sahabatku yang selalu menemaniku di kala senang dan susah. Walau ada teman yang suka mencemooh, menusuk dari belakang, berkat merekalah aku bisa sampai di sini. Terima kasih untuk teman-teman yang setia padaku. (NG/112014)
Inspiring!
Good, bad, everything shall usher us to a higher ground, as they should!


Orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya.
Kakek (dari mama), karena sewaktu saya bayi hingga umur delapan tahun beliau yang menjaga saya. Waktu itu kakek saya juga menjaga abang dan kedua adik saya. Dulu kami sangat nakal tetapi kakek kami selalu bisa mengatasinya. Selama itu, kakek kamilah yang biasa memasak dan membersihkan rumah. Bila saya teringat kakek, saya pasti ingat bahwa dahulu saya sangat nakal dan menyusahkannya.
Mama. Karena mama yang telah melahirkan saya. Ia merawat saya bahkan sebelum saya lahir. Ia juga yang mengajarkan saya bagaimana susahnya mencari uang. Dulu kami memiliki toko. Saat saya kelas 6, saya selalu pulang berjalan kaki karena letak sekolah dekat dengan rumah. Sampai di rumah, saya beristirahat kemudian membantu mama. Dalam menjaga toko, saya belajar sabar dan rajin. Sekarang toko itu sudah ditutup karena mama pindah ke Jakarta. Sebelum mama pindah, saya sering bertengkar dengan mama karena hal sepele. Setelah mama pindah, saya jadi sadar saya telah menyusahkannya. Setiap kali mama kembali ke Batam, saya selalu mencoba membantu mama.
Papa, yang bekerja susah payah sekali. Dulu beliau sering pulang jam delapan, tetapi setiap malam Jumat beliau bertugas menunggu pasien yang datang tengah malam. Dulu jika papa pulang, saya dan saudara-saudara saya sering berkelahi dan papa yang memisahkan. Kami tidak mengerti betapa lelahnya beliau. Sekarang papa pulang cepat, saya selalu mencoba berbuat baik. Mencoba membuatkan minuman dan membawakan buah kepada papa supaya papa bisa santai.
Guru. Karena di sekolah mereka yang menjadi orang tua kami. Di sekolah kami sering berbuat yang tidak baik, kami selalu berisik. Saat guru menjelaskan pun kami sering tidak memperhatikan. Betapa lelah para guru mendidik kami. Sampai lulus nanti pun jasanya tidak terbalaskan.
Teman-teman, karena teman adalah orang yang selalu ada di dekat kita selain orang tua. Mereka yang biasa membuat kita sedih, marah, senang, khawatir,dan lain-lain. Mereka yang sering mendengarkan cerita kita. Mereka juga yang bermain menemani kita, menghibur saat sedih dan mempertahankan tawa kita. (JH/112014)
Touching!

Orang yang memiliki pengaruh penting dalam hidupku adalah mama. Karena beliau saya jadi bisa belajar, membaca, dan menghargai orang lain. Dulu sewaktu saya masih kecil, saya tidak terlalu suka membaca tetapi mama yang membuat saya jadi senang membaca buku, majalah, pengetahuan, dan lain-lain. Mama juga yang membuat saya berubah menjadi lebih baik. Beliau yang melerai jika saya berkelahi dengan abang dan menasehati saya jika saya berkata lebih baik saya tidak memiliki abang seperti abang saya! Mama saya berkata, jika sungguh terjadi, kami akan menyesal. Abang yang membantu saya jika ada masalah dengan pelajaran yang saya tidak bisa.
Dan ketika saya mulai berkata kasar dan jahat kepada  teman dan saudara, mama pasti selalu menasehati saya bahwa tidak baik membenci teman dan saudara sendiri. Itu bisa berakibat buruk seperti tidak memiliki teman, banyak yang membenci dan memusuhi kita.
Kemudian ketika saya menceritakan cita-cita saya mama, mama sangat mendukung dan menyuruh saya untuk belajar dengan rajin karena menjadi dokter tidaklah mudah melainkan sulit karena harus melewati berbagai tes. Kadang, pada malam hari saya curhat pada mama tentang aktifitas di sekolah, tentang pelajaran, teman-teman, dan guru-guru. Biasanya saya menceritakan kejadian seru yang terjadi di sekolah, misalnya sewaktu ada perlombaan. Saya juga sering menceritakan tentang teman-teman saya karena mereka biasanya sering melakukan hal-hal lucu dan seru walaupun konyol untuk orang lain. Terima kasih mama. Engkau adalah malaikat bagi saya. Semoga mama bisa hidup bahagia dan nyaman.
Orang kedua yang berpengaruh dalam hidup saya adalah Ibu Ana. Dia adalah guru matematika di sekolahku yang sangat baik kepada semua orang termasuk saya. Dulu di sekolah lama saya sangat membenci guru matematika saya karena sangat galak dan menurut saya matematika itu pelajaran yang sangat sulit. Bahkan pernah suatu waktu saya tidak mau masuk sekolah karena ada pelajaran matematika yang sangat kubenci. Saat saya lulus SD, saya pindah sekolah ke SMP lain. Saya bertemu guru matematika di sekolah tersebut. Kemudian perlahan-lahan saya mulai menyukai pelajaran matematika dan cara mengajarnya sangat seru dan tidak membosankan, walaupun terkadang beliau menyebalkan juga karena marah-marah pada kami. (CC/112014)
Look hard!
Angels are anywhere!


Teaching is not a profession, it is a PASSION. 

Kamis, 02 Juli 2015

RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN (PTK)

RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
SIKLUS I Perencanaan Tindakan Ü Penyusunan dan pengembangan perangkat pembelajaran penemuan terbimbing
Ü Merancang Instrumen Pembelajaran dan Instrumen Monitoring
Ü Merancang skenario pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan dalam tiga kali pertemuan dengan melaksanakan Pembelajaran Penemuan Terbimbing pada materi: Luas Bangun Datar persegi, persegi panjang, segitiga, dan trapesium.
Pra-Pelaksanaan Tindakan Wawancara dengan peserta didik untuk mendapatkan persepsi peserta didik tentang proses pembelajaran yang telah lalu serta untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik atas materi yang akan dijadikan subjek penelitian.
Pelaksanaan Tindakan Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah direncanakan:
Pemberian informasi kepada peserta didik tentang pembelajaran penemuan terbimbing.
Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RP yang telah disiapkan.
Pengamatan Pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dengan menggunakan instrumen yang telah dibuat. Fokus pengamatan adalah pada proses pembelajaran penemuan terbimbing, proses pemahaman peserta didik dan juga pengamatan terhadap motivasi peserta didik.
Refleksi Hasil monitoring kemudian dianalisis agar dapat memperoleh deskripsi dari pengaruh kegiatan/tindakan pada pelaksanaan pembelajaran yang baru saja dilakukan sehingga teridentifikasi hal-hal yang perlu diadakan perbaikan dan menjadi perhatian dalam tindakan berikutnya.
SIKLUS II Perencanaan Tindakan Hasil refleksi siklus I digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pada rencana tindakan siklus II
Pelaksanaan Tindakan, refleksi, dan seterusnya hingga dicapai hasil yang diharapkan.  
PEMBUATAN LAPORAN